Naskah, Sejarah Kuna, dan Arkeologi

dari Kumpulan Makalah Smposium Internasional Pernaskahan Nusantara MANASSA 2008.

Naskah, Sejarah Kuna, dan Arkeologi
di Tatar Sunda

Agus Aris Munandar1
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia


I

Kajian terhadap naskah kuna yang berasal dari Tatar Sunda hingga sekarang ini tetap berlangsung, jumlah temuan naskah yang berhasil didata dari tahun ke tahun terus bertambah hingga sekarang. Telaah terhadap sejumlah naskah kuna dari Tatar Sunda juga telah banyak dilakukan, baik oleh kalangan ahli dalam negeri atau pun juga ahli-ahli asing. Walaupun demikian tetap dirasakan bahwa kajian terhadap naskah-naskah Tatar Sunda tersebut harus lebih ditingkatkan lagi, sebelum warisan karuhun tersebut hancur dimakan usia.

Para ahli filologi yang telah bersusah payah menelaah berbagai naskah kuna tersebut sebenarnya menyediakan data berharga bagi penelisikan lebih lanjut disiplin yang berkenaan dengan data dalam naskah. Sebagaimana diketahui isi naskah dari Tatar Sunda cukup beraneka, ada yang berkenaan dengan ajaran keagamaan Sunda Kuna, ajaran agama Islam, sejarah politik masa silam, kisah mitos, kisah keislaman, dan lainnya lagi. Semua naskah yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan tersebut adalah data otentik, adalah sejumlah data mentah yang dapat dipilih dan dipergunakan oleh para ahli sejarah agama, sejarah kebudayaan, sejarah politik, dan juga ahli arkeologi untuk mendukung dan memperkuat tafsiran-tafsirannya. Selama ini naskah-naskah yang elah berhasil diteliti oleh para pakar filologi hanya sedikit saja yang diapresiasi oleh rekan-rekan sesama peneliti dari disiplin lain, oleh karena itu data yang berlimpah dari hasil kajian filologi tersebut seakan-akan tidak dapat ditindaklanjuti, terhenti sebagai laporan yang dikoleksi perpustakaan-perpustakaan. Jika saja para peneliti sejarah agama, sejarah kebudayaan, sejarah politik, dan ahli arkeologi mau menengok sejenak hasil-hasil kajian filologi, niscaya banyak tafsiran sejarah kebudayaan, sejarah kuno, dan arkeologi di Tatar Sunda yang dapat diperluas lagi pemahamannya.

II

Dua naskah kuna dari Tatar Sunda yang dipandang penting dan telah dialihaksarakan dan diterjemahkan adalah: (1) Carita Parahyangan, dan (2) Bujangga Manik. Kedua naskah tersebut apabila dikaji secara seksama oleh para ahli sejarah agama Sunda Kuna, sejarah politik, kebudayaan kuna, dan arkeologi dapat dipastikan akan menghasilkan sudut pandang baru bagi pengetahuan masa silam Tatar Sunda. Kedua naskah tersebut dapat dipandang penting karena:
1.Dapat dianggap sebagai tonggak atau monumental manakala membicarakan sejarah politik (kitab Carita Parahyangan), dan jika membicarakan perkembangan kebudayaan dalam abad ke-15—16 yang jadi monumen adalah kitab Bujangga Manik.
2.Walaupun disusun pada sekitar pertengahan abad ke-16, Carita Parahyangan cukup luas memperbincangkan masa awal Tatar Sunda; disusul gambaran sejarah raja-raja Tatar Sunda selanjutnya; sedangkan Bujangga Manik menguraikan dengan penuh metafora suasana Tatar Sunda dan Pulau Jawa pada umumnya –terutama tempat-tempat keagamaannya– dalam masa akhir kebudayaan yang bercorak Hindu-Buddha.
3.Carita Parahyangan sangat mungkin digubah oleh kaum agamawan yang bermukim di suatu komunitas keagamaan yang jauh dari pusat kekuasaan, pedukuhan kaum keagamaan itu acapkali dinamakan dengan patapan atau kabuyutan; sedangkan naskah Bujangga Manik disusun oleh warga keraton Pakuan Pajajaran yang nama aslinya Rakeyan Jaya Pakuan, ia kemudian memilih hidup sebagai agamawan. Jadi kedua naskah itu mewakili dua golongan yang berbeda, yaitu kaum agamawan dan kaum kerabat keraton.

Dalam pada itu Carita Parahyangan mempunyai keistimewaannya sendiri yang tidak dimiliki oleh naskah Sunda Kuna ataupun naskah-naskah Jawa Kuna. Keistimewaan itu adalah Carita Parahyangan merupakan satu-satunya naskah yang membicarakan secara panjang lebar tokoh Sanjaya yang merupakan pendiri kerajaan Mataram Kuna di Tanah Jawa (Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya). Sanjaya dikenal dalam prasasti Canggal yang bertitimangsa 654 Saka (732 M) yang didapatkan di bukit Gunung Wukir, wilayah Muntilan, Magelang. Dinyatakan dalam prasasti itu antara lain:

“Selama raja ini memerintah kerajaannja…., maka orang jang tidur di tepi djalan raja tidak takut akan pendjahat dan bahaja lain-lainnja. Oleh manusia jang kaja akan nama-baik tertjapailah selalu kesenangan, kefaedahan dan kebaikan dengan cukup. Sekarang sang Kali seolah-olah hanja menangis-nangis saja, sebab tidak dapat bahagian suatu apa”
(Poerbatjaraka 1952: 55).

Adapun dalam Carita Parahyangan diuraikan secara panjang lebar awal kehidupan dan perjuangan Sanjaya dalam memperluas wilayah kekuasaannya, dan keadaan kerajaannya yang juga aman sejahtera. Dengan demikian terdapat kesesuaian antara uraian prasasti dan Carita Parahyangan. Maka dapat kiranya dinyatakan bahwa Sanjaya itu adalah orang Sunda, keturunan Galuh Kuna yang akhirnya mendirikan kerajaan di wilayah Jawa bagian tengah, anak keturunannya terus memerintah di wilayah itu hingga awal abad ke-10 M.

Carita Parahyangan juga mempunyai kemiripan dalam hal pola isi tulisan dengan Serat Pararaton. Kedua kitab itu memerikan menjadi 2 bagian, bagian pertama berurai tentang tokoh yang menjadi panutan raja-raja sesudahnya, seorang tokoh besar yang berhasil mendirikan kerajaan yang jaya; adapun bagian kedua menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah setelah masa hidup tokoh besar tersebut (Munandar 2004: 63). Dalam Carita Parahyangan, tokoh besar itu tidak lain adalah Sanjaya, sedangkan dalam Pararaton tokoh besar yang diuraikan ialah Ken Angrok. Bagian kedua dari Carita Parahyangan menarasikan raja-raja di Tatar Sunda setelah pemerintahan Sanjaya hingga masa keruntuhan kerajaan Sunda oleh tentara Islam Banten. Begitupun alam Pararaton setelah berakhirnya kisah Ken Angrok, uraian dilanjutkan dengan kisah para raja Singhasari pengganti Ken Angrok, lalu dilanjutkan dengan kisah raja-raja Majapahit dari masa awal, pertumbuhan, puncak kejayaan, era kemerosotan, hingga jatuhnya pemerintahan Bhre Krtabhumi dalam tahun 1400 Saka (1478 M). Agaknya kedua kitab itu oleh para penyusunnya dimaksudkan sebagai kitab sejarah masa silam dalam pengertian zamannya. Sejarah tokoh-tokoh Sunda Kuna diuraikan dalam Carita Parahyangan, dan sejarah raja-raja Singhasari-Majapahit didokumentasikan dalam kitab Pararaton. Demikianlah dapat diketahui bahwa Carita Parahyangan merupakan kitab Sunda Kuna yang lebih bercirikan kesejarahan, dan setara kedudukannya dengan Pararaton dalam kebudayaan Jawa Kuna.

Kitab kedua adalah Bujangga Manik, kitab tersebut telah dialihaksarakan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, merupakan naskah yang sarat dengan informasi tentang bangunan suci, pertapaan, mandala, sakakala, serta gunung-gunung dan bukit yang dianggap keramat di Jawa pada sekitar abad ke-15 M yang pernah dikunjungi atau dilalui oleh Bujangga Manik. Penerbitan naskah itu diusahakan oleh J.Noorduyn dan A.Teeuw bersama 2 Naskah Sunda Kuna lainnya dengan judul Three Old Sundanese poems (2006).

Perihal naskah Bujangga Manik sebenarnya telah lama diumumkan oleh Noorduyn dalam tahun 1982. Artikelnya yang berkenaan dengan naskah Bujangga Manik berjudul ”Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical data from an old Sundanese source”, diterbitkan dalam Bijdragen tot de taal, land,-en volkenkunde. Deel 138 4e Aflevering, halaman 413—442. Berdasarkan uraian isinya yang menyebutkan Majapahit, Malaka, dan Demak, Noorduyn menyatakan bahwa naskah tersebut disusun pada bagian akhir abad ke-15 atau pada awal abad ke-16 M (Noorduyn 1982: 414). Dalam artikel tersebut Noorduyn menegaskan bahwa uraian naskah Bujangga Manik justru penting sebagai data topografi karena menyebutkan berbagai lokasi di tanah Jawa baik Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Sebagian besar nama lokasi yang dinyatakan dalam naskah masih dapat dikenali sampai sekarang, namun sebagian lagi belum dapat diketahui secara pasti (Noorduyn 1982: 413—4). Adapun dalam terbitan lengkap naskah Bujangga Manik yang dilakukan oleh Noorduyn dan Teeuw (2006) dinyatakan bahwa isi naskah tersebut adalah uraian perjalanan ziarah yang dilakukan oleh tokoh Bujangga Manik.

Uraian yang disusun oleh Bujangga Manik memang merupakan perjalanan mengunjungi berbagai tempat suci yang dikenal pada masanya, perjalanan itu tentu dapat digolongkan sebagai suatu perjalanan ziarah. Berbagai tempat suci yang terdapat di pelosok-pelosok Pulau Jawa dikunjungi oleh Bujangga Manik, ia melakukan perjalanan melalui banyak daerah, maka sudah barangtentu disebutkan pula nama wilayah, hutan, lembah, sungai, bukit, gunung, dan lain-lain yang telah dilaluinya. Data perihal daerah-daerah dan berbagai fenomena geografis itu dapat dipandang sebagai data topografi, oleh karena itu naskah Bujangga Manik menjadi penting untuk mengetahui keadaan topografis Jawa antara abad 15—16 M. Selain itu terdapat pula data lain yang dapat dijadikan data pendukung untuk melakukan penelitian yang bersifat sejarah kebudayaan dan arkeologis. Mungkin para peneliti yang mendalami bidang-bidang tersebut dapat menggunakannya di masa mendatang.

III

Apa yang diuraikan dalam kitab Carita Parahyangan dan Bujangga Manik sebenarnya merupakan data yang dapat dipergunakan oleh para peneliti kemasalaluan lainnya di luar bidang filologi. Selanjutnya adalah tinggal kemauan dan kemampuan para ahli di luar filologi (sejarah dan arkeologi) untuk dapat memanfaatkan data yang sudah tersedia tersebut. Berdasarkan “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (kropak 406)” yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Undang A.Darsa & Edi S.Ekadjati (2003), dapat dikemukakan adanya data sejarah kebudayaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam Fragmen Carita Parahyangan terdapat ungkapan yang menarik sebagai berikut:

Carek Maharaja Trarusbawa, “Sang Resi enak sila seuweu mati(ng)timkeun na bumi bwana, andelan siya ma jagat kreta. Sang Rama miseuyeut sila seuweu matingtimkeun darmasasana, andelan siya ma jagat darana. Sang Prebu enak ambek peuyeut sila seuweu matingtimkeun rajasasana, andelan siya ma jagat palaka” (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 188).

Terjemahannya kurang lebih:

Ucap Maharaja Trarusbawa: “Sang Resi selayaknya menentramkan buana, tugas utamanya menyejahterakan alam, Sang Rama selayaknya mengawal ajaran darma, tugas utamanya sebagai pembimbing alam kehidupan. Sang Prabu selayaknya melaksanakan ajaran raja, tugas utamanya melaksanakan pemerintahan”.

Dalam masyarakat kuna di lingkungan Kerajaan Sunda ternyata terdapat 3 pemimpin yang menjadi panutan, yaitu resi, rama, dan raja (prebu). Tiga tokoh tersebut kiranya penting dalam masanya, namun belum banyak diungkapkan oleh para peneliti sejarah (kebudayaan) Sunda kuna. Dalam bagian lain Fragmen Carita Parahyangan dinyatakan: “bayu maduuman Sang Prebu, sabda maduuman Sang Rama, hedap duumkeun ka Sang Resi” (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 188). Artinya kurang lebih: “wibawa dimiliki Sang Prabu, ucapan dimiliki oleh Sang Rama, dan tekad miliknya Sang Resi”. Arti ungkapan itu sungguh jelas bahwa Raja memang harus memelihara kewibawaannya, jika raja tidak punya wibawa maka kekuasaannya pasti pudar, dan dia segera jatuh dari tahtanya. Ucapan yang berupa petuah dan contoh-contoh peri kehidupan yang baik agar dapat hidup sejahtera harus selalu disampaikan oleh Rama, ia adalah pembimbing langsung masyarakat, karena ia yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0
Updated: 26 Maret 2010 — 11:02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com