Seminar Bedah Naskah Pangeran Wangsakerta

Salinan (foto hitam-putih) naskah Pangeran Wangsakerta dok. Ilham Nurwansah

Salinan (foto hitam-putih) naskah Pangeran Wangsakerta dok. Ilham Nurwansah

Naskah Pangeran Wangsakerta telah lama menjadi polemik yang belum memiliki titik temu pendapat para peneliti. Berbagai kontroversi dan keberpihakan pendapat baik pro maupun kontra masih dapat ditemukan hingga saat ini. Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat pada hari Selasa (23/4/2013) menggelar kegiatan seminar Bedah Naskah Pangeran Wangsakerta di aula serbaguna Museum Sri Baduga, Jl. BKR No. 185 Bandung.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencari titik temu terhadap kontroversi naskah Pangeran Wangsakerta, dengan beberapa bukti baru yang telah didapatkan dari penelitian mutakhir masa kini. Pemateri seminar yang dihadirkan pada kegiatan tersebut yaitu Sri Mulyani (Kepala Museum Sri Baduga), Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum (Filolog), Dr. Tedi Permadi, M.Hum. (Kodikolog), dan Dr. Mumuh Muhsin Z. (Sejarawan).

Dalam kegiatan seminar itu, disampaikan beberapa fakta baru yang selama ini belum terkuak seperti jenis kertas dan tinta yag digunakan serta kualitas bahan naskah yang tergolong berkualitas rendah. Di bawah ini saya sampaikan ringkasan materi pada seminar Bedah Naskah Pangeran Wangsakerta.

 

 

Pelestarian dan Pemanfaatan Koleksi Filologika (Naskah Kuna)
di Museum Sri Baduga
Oleh: Sri Mulyati

Pelestarian dan pemanfaatan Naskah Kuna Tertera dalam PERDA (Peraturan Daerah) Nomor 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah.

A. PELESTARIAN NASKAH KUNA
1. Pemeliharaan

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pemeliharaan naskah kuna dilakukan konservator yang memiliki keahlian atau pengalaman di bidang ilmu fisika, kimia, biologi dan ilmu pengetahuan bahan. Pelestarian naskah kuna ditempuh melalui perawatan koleksi yang bertujuan merawat, memperbaiki/merekonstruksi dan mencegah koleksi tersebut dari kerusakan. Faktor penyebab kerusakan naskah kuna, antara lain ialah: kelembaban udara, intensitas cahaya, suhu dan tempratur, kerusakan akibat serangga. Dalam tehnik pelaksanaan perawatan ditempuh dengan cara, yaitu:

  1. Konservasi Koleksi, yaitu melakukan proses pengawetan naskah kuna, baik dengan proses kimiawi maupun secara tradisional .
  2. Preservasi, adalah menjaga keutuhan naskah kuna dari kerusakan yang disebabkan faktor alam, selain itu museum juga melakukan preservasi atau upaya-upaya pencegahan dengan cara mengatur kelembaban udara, suhu,d an intensitas pencahayaan di ruang penyimpanan.
  3. Pengamanan, perlu pengamanan mengingat koleksi filologika (naskah kuna) sangat berharga, bernilai sejarah, dan langka maka perlu diperhatikan keamanannya dari gangguan atau kerusakan yang disebabkan faktor alam dan ulah manusia.
  4. Penyajian koleksi. Menyajikan koleksi naskah kuna pada sebuah pameran memerlukan pengetahuan tentang penataan pameran, baik pameran tetap, khusus/temporer maupun pameran partisifasi.

2. Dokumentasi
Dokumentasi naskah kuna juga merupakan upaya pelestarian, yaitu usaha pengumpulan keterangan tertulis, rekaman suara, rekaman visual (foto, slide, cd, dan film).

3. Survei/Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi koleksi yang berkaitan dengan keadaan fisik, asal usul, proses pembuatan, guna dan fungsi dalam lingkungan sosial budaya benda itu berasal. Survei/penelitian naskah kuna biasanya dilakukan dengan cara antara lain:

  • Survei pengadaan koleksi, suatu metode penelitian menggunakan pendekatan secara menyeluruh dan terpadu untuk mendapatkan semua bahan mengenai semua aspek kebudayaan terutama pada wilayah yang mempunyai kebudayaan material tradisional yang sudah terdesak atau punah.
  • Melalui studi perbandingan koleksi, suatu kegiatan engumpulan data di lapangan mengenai suatu jenis koleksi.

B. PEMANFAATAN NASKAH
Berkaitan dengan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi Museum Sri Baduga) yang katagori museum umum yang memiliki 10 (sepuluh klasifikasi koleksi) dapat dikatakan secara realita diantara sepuluh koleksi tersebut, keloksi Filologika (09) berupa naskah kuna (manuskrip) paling banyak diminati oleh mahasiswa, peneliti, pakar, dan masyarakat umum dalam berbagai kepentingan, di sini dalam pelayanan pemanfaatan naskah kuna kami berbagi pengalaman. Koleksi Filologika (naskah kuna) dapat dikatakan icon koleksi Museum Sri Baduga dalam kaitan pemanfaatannya.

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com