Belajar Lagi Bahasa Jawa Kuno
di Kaki Gunung Penanggungan

(Catatan Kursus Intensif Internasional Jawa Kuno 2015)

Tahun ini adalah kali kedua Kursus Intensif Internasional Jawa Kuno diadakan oleh Perpustakaan Nasional RI, EFEO dan KITLV. Beruntung saya bisa mengikutinya lagi. Pada awalnya, saya mendapatkan email dari Prof. Arlo Griffith tentang pemberitahuan kursus kedua itu. Link informasi lengkapnya ada di situs EFEO (versi bahasa Inggris) dan situs PNRI (versi bahasa Indonesia). Kursus dilaksanakan selama 15 hari, dimulai tanggal 31 Juli 2015 sampai 15 Agustus 2015. Dengan antusias dan bersemangat saya jawab email tersebut dan beberapa minggu selanjutnya diikuti oleh proses pelamaran sebagai anggota melalui email panitia.

Setelah besabar menunggu, akhirnya hasil seleksi diumumkan pada tanggal 19 Juni 2015 langsung ke email saya. Sungguh senang rasanya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Jawa kuno untuk kedua kalinya. Dari pengumuman itu, kemudian saya berkomunikasi dengan panitia secara intens untuk mengkonfirmasi persiapan keberangkatan ke Trawas.

Tiba waktunya untuk berangkat tanggal 31 Juli 2015 jam 11.10 WIB. Waktu itu saya menggunakan pesawat dari Bandung menuju Surabaya, tempat penjemputan seluruh peserta melalui jalur udara. Tiba di Surabaya pukul 12.15, agak meleset sedikit dari jadwal tiba di Surabaya (lebih tepatnya di Sidoarjo). Hari itu adalah pertama kali tiba di Surabaya menggunakan pesawat, sehingga saya agak kebingungan juga mencari tempat pertemuan penjemputan di bandara. Setelah turun dan mengambil koper, saya bergegas mencari jalan keluar dari terminal 2 bandara Djuana. Tak lama kemudian, Pak Arlo menelfon saya menanyakan posisi. Ternyata saya sudah ditunggu di pintu keluar terminal 2 oleh pak Arlo dan Pak Kusworo. Sepertinya saya yang paling akhir dijemput, karena tak lama berselang setelah saya naik bis jemputan, kami pun langsung berangkat menuju Mojokerto. Di dalam bis, saya berjumpa kembali dengan Prof. Willem van der Molen, Ibu Dr. Dwi Puspitorini, Abhi (peserta tahun lalu), dan beberapa peserta asing yang baru pertama kali mengikuti kursus bahasa Jawa Kuno di tahun ini.

Perjalanan dari Sidoarjo menuju Mojokerto ditempuh cukup lama, sekitar 2,5 jam. Mendekati Kecamatan Trawas di Mojokerto, jalur mulai berkelok-kelok khas pegunungan. Semakin tinggi, udara semakin dingin dan menyegarkan. Sesuai dengan jadwal, kami tiba di Ubaya Training Center (UTC) di bawah kaki gunung Penanggungan, Trawas. Tempat yang sama untuk pelaksanaan kursus bahasa Jawa kuno seperti tahun kemarin. Gunung Penanggungan adalah gunung bersejarah dan sering disebutkan dalam teks Jawa kuno dan juga Sunda kuno, dengan nama Mahapawitra. Di gunung ini kini telah ditemukan banyak situs pertapaan berupa candi berundak, goa pertapaan, dan bahkan prasasti tembaga beraksara Kawi. Tempat yang memiliki suasana tepat, sejuk dan tenang untuk belajar bahasa Jawa kuno.

Di UTC, kami disambut oleh panitia, lalu diberikan fasilitas cottage VIP berstruktur rumah panggung berbahan kayu. Di fasilitas inilah kami akan menghabiskan masa kursus selama dua minggu. Yang menarik adalah saat pembagian ruangan, justru saya mendapatkan ruangan yang sama di cottage Fennel, dan lebih kebetulan lagi, mendapatkan kamar dan tempat tidur yang sama. Hehe. Hanya saja teman sekamar saya yang berbeda. Kali ini saya sekamar dengan Dr. Andrew Ollet dari Amerika. Kalau tahun lalu, teman kamar saya adalah Prof. Peter Bischop dari Leiden, Belanda. Di cottage Fennel, kecuali saya, semuanya adalah peserta baru. Kami berlima, saya bersama-sama dengan Andrew, Mas Tri dari Malang, Zaki dari UGM Yogyakarta, dan Danang juga dari UGM Yogyakarta.

Seluruh peserta sudah terbagi rata menempati kamar yang telah disediakan di UTC, lalu menuju ruang makan Lemongrass untuk makan siang. Di sini kami mulai saling bersapa lebih dekat untuk berkenalan dengan sesama peserta. Tak lama berselang setelah jeda istirahat dan makan siang, agenda dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh panitia yang diwakili pihak Perpustakaan Nasional RI. Di dalam peresmian, juga diperkenalkan tiga mentor ahli bahasa Jawa kuno yaitu Prof. Willem van der Molen dari KITLV Belanda, Prof. Arlo Griffith dari EFEO Perancis, dan Dr. Dwi Puspitorini dari Universitas Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta yang perpartisipasi. Acara dibuka dengan penuh antusias dari seluruh peserta. Setelah penjelasan secara umum tentang agenda kursus internasional bahasa Jawa kuno yang akan dilaksanakan selama dua minggu ke depan, seluruh peserta dan panitia berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0

4 Komentar

Tambah Komentar
  1. Jadi penasaran pak … saya orang jawa tapi tidak tahu bahasa jawa kuno …

    1. Ayo belajar bahasa Jawa Kuno ya, Mas Agus.

  2. Halo mas ilham..
    Maaf ni sebelumnya. Saya agaknya tertarik sm bahasa jawa kuno. Kalau mau tanya-tanya tentang bahasa jawa kuno, boleh minta email mas ilham? Terimakasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com