Aksara Sunda dalam Gaya Kaligrafi

oleh Ilham Nurwansah
(diterjemahkan dari Aksara Sunda dina Wanda Kaligrafi, dimuat di majalah Manglé No. 2550)

Kairaga.com — KALIGRAFI atau seni mereka tulisan indah telah biasa digunakan dalam huruf Arab atau huruf Latin. Khususnya pada tulisan formal. Perkembangan kaligrafi untuk kedua aksara tersebut terhitung telah cukup lama. Tetapi untuk aksara Sunda, kelihatannya belum begitu berkembang dalam gaya kaligrafi. Di masyarakat sekarang, aksara Sunda tampaknya baru digunakan untuk menulis biasa atau standar persis seperti bentuk dasarnya. Biarlah saja untuk sementara ini, sebab pengembangan gaya kaligrafi memerlukan waktu.

Di Arab kaligrafi yang disebut khat merupakan salah satu cara untuk menambahkan unsur keindahan terhadap objeknya. Selain dipakai dalam dokumen tertulis, kaligrafi banyak juga diterapkan pada bangunan. Misalnya saja diterapkan pada bagian-bagian masjid. Ornamen-ornamen masjid banyak yang menggunakan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an. Begitu juga dengan masjid-masjid yang ada di daerah kita. Tampaknya “tidak afdol” bila masjid atau mushola tidak menggunakan ornamen kaligrafi.

Kaligrafi aksara Arab yang dipakai memiliki berbagai jenis gaya. Di antara gaya yang populer yaitu kufi, nabati, tsuluts nan naskhi. Setiap gaya memiliki ciri masing-masing yang berbeda. Tentunya gaya ini berdasarkan kemampuan imajinasi pembuatannya secara konsisten. Kaligrafi aksara Arab saat ini banyak diajarkan di pesantren, sebagai subyek tambahan dalam pengajaran menulis. Hal inilah yang menjadikan kaligrafi Arab dikenal secara luas oleh masyarakat.

Bila kaligrafi diterapkan untuk aksara Sunda, tentu sangat bagus. Sesungguhnya, keindahan bentuk aksara Sunda dapat ditelusuri dari naskah-naskah. Beberapa naskah memiliki bentuk aksara yang indah serta rapi. Tentu hal ini adalah hasil kreatifitas penulisnya sehingga dapat membuat bentuk yang memiliki rasa seni tinggi. Saya tertarik oleh salah satu naskah lontar koleksi kabuyutan Ciburuy yang memiliki bentuk aksara indah. Tulisannya konsisten dan digarap dengan sangat teliti. Sehingga aksara yang dihasilkan, selain dapat jelas terbaca, juga terlihat indah.

Keindahan yang muncul dari berbagai bentuk aksara yang dituliskan  tergantung kepada berbagai hal. Terutama kemampuan membaca dan menulis . Selain itu pengetahuan terhadap tarikan garis juga penting. Aksara Sunda kuna ditulis menggunakan pisau pangot yang runcing ujung matanya dan sangat tajam. Dengan demikian hasilnya berupa bentuk aksara yang memiliki garis tipis dan cenderung seragam. Sangat berbeda dengan aksara Arab atau aksara Latin yang memiliki bentuk tipis-tebal. Hal ini karena kedua aksara tersebut menggunakan alat tulis yang berbeda.

Tipis atau tebalnya garis ditentukan oleh ujung alat tulisnya. Untuk aksara Arab dan Latin biasanya menggunakan kalam atau pena yang memilki ujung yang berbentuk khusus, serta menggunakan tinta. Berdasarkan bukti yang ditemukan, dalam naskah Sunda kuna pun ditemukan penulisan yang menggunakan gaya tipis-tebal. Umumnya ditemukan pada naskah-naskah yang berbahan dasar daun gebang. Tetapi aksara yang digunakan pada umumnya adalah aksara  Buda/Gunung. Meskipun demikian, ini adalah conto yang baik sebagai dasar untuk mengembangkan bentuk-bentuk kaligrafi aksara Sunda.

Untuk aksara Sunda baku, gaya kaligrafi tentunya dapat dikembangkan lebih luas lagi. Berbagai jenis alat tulis saat ini dapat dipilih untuk menghasilkan garis tulisan yang memiliki karakter khas. Apalagi sudah banyak jenis pulpen atau spidol yang dibuat khusus untuk menulis kaligrafi. Tentunya hal itu merupakan potensi untuk mengembangkan gaya-gaya kaligrafi aksara Sunda.

Potensi untuk menerapkan aksara Sunda ke dalam gaya kaligrafi sangatlah besar. Meskipun aksara belum begitu bisa digunakan sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun setidaknya dapat dipakai untuk keperluan khusus. Misalnya saja untuk menulis sertifikat, cenderamata, atau karya kreatif lainnya.

Agar masyarakat mengenal gaya kaligrafi aksara Sunda, perlu dukungan dari banyak pihak. Untuk lingkungan pendidikan, tampaknya model pengajaran kaligrafi yang biasa dipakai di pesantren dapat dijadikan contoh. Tapi tentunya tergantung kita. Apakah ada niat untuk mengembangkan kaligrafi aksara Sunda, atau tidak? Bila keberadaan aksara Sunda telah cukup kuat di masyarakat, sangat diharapkan munculnya gaya-gaya tulisan yang khas, layaknya dalam kaligrafi aksara Arab.

Penulis adalah peneliti naskah Sunda, alumni Prodi Pendidikan bahasa dan Budaya Sunda Pascasarjana UPI

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com