Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj

Judul: Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj
Penyusun/Penyunting: Drs. Atja
Penerbit: Lembaga Bahasa dan Sejarah
Tahun terbit: 1970, Bandung

Kairaga.com —  Buku yang terbit tahun 1970 ini merupakan edisi teks pertama dari naskah lontar Sunda kuno Carita Ratu Pakuan koleksi Museum Pusat Jakarta (kini terdaftar dalam koleksi Perpusnas RI), yang dikerjakan oleh Atja.  Struktur buku terdiri atas Pendahuluan, Rangkuman Isi, uraian tentang Kai Raga dan Gununglarang Srimanganti, Cara mentranskripsi, isi naskah No. 410, dan Referensi.

Bagian pendahuluan berisi pandangan umum tentang penggarapan rintisan naskah Sunda kuno yang masih terbatas dibandingkan dengan penelitian naskah Jawa kuno. Misalnya dengan telah terbitnya kamus bahasa Jawa kuno, sedangkan untuk bahasa Sunda kuno belum tersedia. Dengan demikian masih banyak hambatan dalam upaya penerjemahan bahasa Sunda kuno. Penguasaan bahasa Jawa kuno yang baik pun belum tentu dapat membantu dengan mudah penggarapan kebahasaan Sunda kuno yang khas. Sebagai contoh Atja memberikan kasus penentuan ari Pakuan Pajajaran ditinjau dari perbandingan beberapa prasasti dan istilah yang sejenis dalam bahasa Jawa kuno.

Pada Rangkuman Isi diuraikan garis besar kisah dalam naskah Carita Ratu Pakuan serta deskripsi fisik naskah. Adapun isi teks terdiri dari dua bagian cerita. Pertama, menguraikan nama-nama pohaci, dan dewata serta gunung pertapaannya. Bagian kedua mengisahkan iring-iringan kerajaan dari keraton timur untuk kembali ke keraton barat. Yang ikut dalam rombongan tersebut antara lain Ngabetkasih, Kentringmanik Maya Suda Bok Janur (dalam cerita pantun disebut Kentring Manik Mayang Sunda). Dari penyebutan beberapa tokoh penting dalam kisah ini, disimpulkan bahwa yang dimaksud Ratu Pakuan adalah tokoh Prabu Siliwangi. Uraian kemudian dilanjutkan lebih mendalam tentang kaitan Prabu Siliwangi dalam beberapa teks yang lebih muda serta carita pantun.

Uraian tentang Kai Raga dan Gununglarang Srimanganti memaparkan riwayat kepenulisan sosok Kai Raga, yang merupakan penulis naskah ini (kropak 410) serta beberapa naskah lainnya. Identitas Kai Raga disebutkan dalam beberapa naskah lain, yaitu kropak 411, 416, 419, dan 423. Kesamaan lainnya yaitu penggunaan pola penulisan kalimat pada kolofon yang sama, misalnya pada 416 dan 433: beunang diajar nulis kai raga di gunung larang srimanganti (hasil belajar menulis Kai Raga di gunung larang srimanganti).  Dalam bagian ini juga diupayakan identifikasi lokasi Gunung Larang Srimanganti serta riwayat keturunan Kai Raga yang dilakukan oleh C.M. Pleyte tahun 1904.

Bagian selanjutnya menjelaskan cara-cara transkripsi (maksudnya transliterasi/alih aksara) secara terperinci, sehingga didapatkan teks dan rekonstruksi yang utuh. Adapun isi naskah 410 disajikan dalam dua kolom dengan keterangan nomor baris pada setiap kolomnya. Teks yang disajikan apa adanya sesuai naskah aslinya, sedangkan kritik teks ditambahkan pada catatan kaki. Namun sayang, dalam edisi ini tidak disajikan terjemahan lengkap dari teks Carita Ratu Pakuan.

Buku ini tidak dicetak ulang. Untuk mengaksesnya, Anda dapat mengunjungi perpustakaan Departemen Pendidikan Bahasa Sunda, UPI Bandung, Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD Bandung, atau Perpustakaan Ajip Rosidi di Jl. Garut No. 2 Bandung Jawa Barat.

Ikuti dan bagikan:
0
SafelinkU | Shorten your link and earn money

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2018 Frontier Theme