Category: Filologia – ᮖᮤᮜᮧᮜᮧᮌᮤᮃ

Aksara Sunda dalam Gaya Kaligrafi

oleh Ilham Nurwansah
(diterjemahkan dari Aksara Sunda dina Wanda Kaligrafi, dimuat di majalah Manglé No. 2550)

Kairaga.com — KALIGRAFI atau seni mereka tulisan indah telah biasa digunakan dalam huruf Arab atau huruf Latin. Khususnya pada tulisan formal. Perkembangan kaligrafi untuk kedua aksara tersebut terhitung telah cukup lama. Tetapi untuk aksara Sunda, kelihatannya belum begitu berkembang dalam gaya kaligrafi. Di masyarakat sekarang, aksara Sunda tampaknya baru digunakan untuk menulis biasa atau standar persis seperti bentuk dasarnya. Biarlah saja untuk sementara ini, sebab pengembangan gaya kaligrafi memerlukan waktu. Lanjutkan membaca...

Ikuti dan bagikan:
0

Seminar Bedah Naskah Pangeran Wangsakerta

Salinan (foto hitam-putih) naskah Pangeran Wangsakerta dok. Ilham Nurwansah

Salinan (foto hitam-putih) naskah Pangeran Wangsakerta dok. Ilham Nurwansah

Naskah Pangeran Wangsakerta telah lama menjadi polemik yang belum memiliki titik temu pendapat para peneliti. Berbagai kontroversi dan keberpihakan pendapat baik pro maupun kontra masih dapat ditemukan hingga saat ini. Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat pada hari Selasa (23/4/2013) menggelar kegiatan seminar Bedah Naskah Pangeran Wangsakerta di aula serbaguna Museum Sri Baduga, Jl. BKR No. 185 Bandung.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencari titik temu terhadap kontroversi naskah Pangeran Wangsakerta, dengan beberapa bukti baru yang telah didapatkan dari penelitian mutakhir masa kini. Pemateri seminar yang dihadirkan pada kegiatan tersebut yaitu Sri Mulyani (Kepala Museum Sri Baduga), Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum (Filolog), Dr. Tedi Permadi, M.Hum. (Kodikolog), dan Dr. Mumuh Muhsin Z. (Sejarawan). Lanjutkan membaca...

Ikuti dan bagikan:
0

Menengok Koleksi Filologika Museum Sribaduga Jawa Barat

Babad Pajajaran, aksara: Cacarakan, bahasa Cirebon, Bahan: daluang

Babad Pajajaran, aksara: Cacarakan, bahasa Cirebon, Bahan: daluang

Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman menengok koleksi filologika milik Museum Sribaduga Jawa Barat. Sebenarnya kunjungan yang dilakukan pada Jum’at sore (2/5/14) bersama kawan-kawan sekelas di Prodi Bahasa dan Budaya Sunda, Sekolah Pascasarjana UPI ini tidak khusus untuk melihat koleksi naskah saja. Tetapi salah satu bagian dalam mata kuliah Metode Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Sunda untuk mengobservasi salah satu item benda dalam koleksi Museum Sribaduga.

Kunjungan kami berdelapan waktu itu dipandu oleh salah satu petugas dari museum, yaitu Ibu Sri. Ia mengajak kami untuk berkeliling museum dari mulai ruang perkenalan, hingga ke bagian koleksi-koleksi khusus. Di ruang perkenalan ternyata sudah ditampilkan dua buah naskah berbahan daluang yang disimpan dalam kotak kaca dengan tumpuan kotak kayu dengan tinggi setengah badan. Kedua naskah ini isinya bercerita tentang kerajaan Pajajaran dan disimpan di kiri dan kanan depan sebuah lukisan yang menunjukkan sosok Sribaduga Maharaja. Naskah yang ada di kiri lukisan beraksara cacarakan dengan bahasa Cirebon, sedangkan naskah yang ada di kanan braksara pégon dengan bahasa Cirebon. Alas tulis dibuat dari daluang. Sayang, kondisi tepian lembaran halaman kedua naskah ini tampak sudah pudar karena menyerap
kelembapan di sekitarnya. Lanjutkan membaca...

Ikuti dan bagikan:
0

Naskah Sunda dan Penelitian

PENGERTIAN

 A. Naskah Sunda

  • Naskah Sunda adalah naskah yang disusun dan ditulis di wilayah Sunda (kini Jawa Barat dan Banten) dan naskah-naskah yang berisi cerita atau uraian yang bertalian dengan wilayah dan orang Sunda sebagai inti dan pokok naskah (Ekadjati, 1988:4);
  • Membuat batasan secara tepat tentang istilah naskah Sunda ini sangat sulit karena di dalamnya terkandung indikator meliputi etnis, bahasa dan wilayah (Kalsum, 2006).
  • Isi naskah di Museum Nasional (kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional RI) – Jakarta dan Negeri Belanda dikelompokan ke dalam 12 jenis, yaitu: (1) agama, (2) uraian tentang kebahasaan, (3) hukum/aturan, (4) kemasyarakatan, (5) mitologi, (6) pendidikan, (7) pengetahuan, (8) primbon, (9) sastra, (10) sastra sejarah, (11) sejarah, (12) seni (Ekadjati, 1988:34-151);
  • Lanjutkan membaca...

    Ikuti dan bagikan:
    0

    Pangan dalam Naskah Kuna Nusantara

    Tahun ini Perpustakaan Nasional RI kembali mengadakan kegiatan seminar naskah kuna nusantara. Tema yang diusung dalam seminar kali ini yaitu Pangan dalam Naskah Kuna Nusantara, dengan bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional RI. Kegiatan seminar yang dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 18-19 ini menampilkan 13 orang pemateri yang dibagi ke dalam empat sesi seminar dalam dua hari.

    Peserta yang hadir merupakan undangan terbuka untuk umum, terutama para mahasiswa, dosen, dan peneliti dalam bidang kajian Filologi dan pernaskahan Nusantara. Saya mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar tersebut dan menjadi kesempatan yang baik untuk lebih mendapatkan pengalaman dalam bidang ini. Lanjutkan membaca...

    Ikuti dan bagikan:
    0

    Naskah Lontar Sunda Kuna Sanghyang Siksa Kandang
    Karesian (624): sebuah anomali pada pernaskahan
    Sunda kuna

    Ilham Nurwansah1
    dalam Jumantara Vol. 4 No. 1 (2013) hlm.151-164
    file pdf dapat diunduh dari http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

    Abstrak

    Peneltian terhadap naskah Sunda kuna (NSK) yang belum menyeluruh menimbulkan beberapa anggapan yang cenderung bersifat sementara. Seperti halnya anggapan Atja dan Danasasmita terhadap sebuah naskah berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian (kropak 630). Naskah tersebut pada mulanya dianggap tunggal (codex uniqum), namun pada penelitian mutakhir ternyata ditemukan naskah dengan isi teks yang sama pada kropak 624. Naskah ‘kedua’ ini memiliki keunikan karena menggunakan alas tulis dan aksara yang berbeda dari naskah pertama. Naskah kropak 630 ditulis dengan aksara Buda/Gunung menggunakan tinta, pada bahan nipah. Sedangkan naskah kropak 624 ditulis dengan aksara Sunda kuna menggunakan péso pangot (pengutik), pada bahan lontar. Adapun bahasa yang digunakan pada kedua naskah tersebut sama, yaitu bahasa Sunda kuna. Hal ini merupakan anomali dalam pernaskahan Sunda kuna. Tulisan ini berupaya mengupas naskah kropak 624 berdasarkan metode filologis, sehingga dapat terlihat persamaan maupun perbedaan kandungan teksnya dengan kropak 630. Lanjutkan membaca...

    Ikuti dan bagikan:
    0
    Kairaga.com © 2017
    Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com