Naskah Sunda

NASKAH SUNDA
Naskah Sunda adalah naskah yang disusun dan ditulis di wilayah Sunda (kini Jawa Barat dan Banten) dan naskah-naskah yang berisi cerita atau uraian yang bertalian dengan wilayah dan orang Sunda sebagai inti dan pokok naskah (Ekadjati, 1988:4). Di sisi lain, Kalsum (2006) mengemukakan bahwa untuk membuat batasan secara tepat tentang istilah naskah Sunda ini sangat sulit karena di dalamnya terkandung indikator meliputi etnis, bahasa dan wilayah.

NASKAH SUNDA KUNA

Pada tahun 2010 Aditia Gunawan & Holil Munawar menggagas untuk menyebut sebuah kelompok Naskah Sunda yang lebih spesifik, yaitu Naskah Sunda Kuna. Naskah yang dikategorikan sebagai Naskah Sunda Kuna (NSK) berdasarkan pada pertimbangan berikut:

  • Aksara. Aksara yang dimaksud adalah aksara Sunda kuna yang memiliki karakter yang mandiri, yang bisa dibedakan dengan jenis-jenis aksara dari daerah lain;
  • Bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda kuna yang dapat dibedakan dengan bahasa Sunda modern;
  • Media. Media yang dipilih adalah lontar, nipah, bambu, dan daluang;
  • Kolofon yang mencantumkan tempat penulisan naskah;
  • Asal naskah, yang memberikan informasi diperolehnya naskah tersebut menjadi koleksi BGKW dan kemudian PNRI

Naskah-naskah tersebut ada yang telah menjadi koleksi lembaga pemerintah (PNRI, dari koleksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen [BGKW], Museum Jawa Barat), namun diperkirarkan masih banyak terdapat naskah yang dimiliki secara personal di masyarakat umum. Tentunya naskah-naskah yang berada di masyarakat sangat rentan mengalami kerusakan karena tidak dirawat, maupun hilang. Meskipun pada beberapa orang/kelompok masyarakat masih melakukan upaya perawatan dan penyimpanan naskah dengan baik. Oleh karena itu, selain upaya penelitian yang telah dan sedang dilakukan terhadap naskah yang telah “terselamatkan”, juga diperlukan upaya penyelamatan naskah-naskah yang masih banyak tersebar di kalangan masyarakat secara luas.

Naskah-naskah Sunda kuna yang terdapat di masyarakat contohnya naskah berbahan bilah bambu di Mande-Cianjur, dan naskah lontar di daerah Cijenuk dan Antapani-Bandung. Naskah Sunda beraksara pegon (Arab-Sunda) diperkirakan masih banyak terdapat di pesantren-pesantren di Jawa barat, mengingat jumlah pesantren dengan tradisi menulis dengan aksara pegon masih banyak tersebar di Jawa Barat. Naskah-naskah pegon tersebut biasanya berisi tentang wawacan (puisi naratif), sejarah islami, maupun ajaran fiqih dan keislaman lainnya.

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com