Bahasa Sunda Kuna

Bahasa Sunda kuna adalah bahasa Sunda yang digunakan kurang lebih dari abad XVII dan seterusnya, yang kemudian berubah seiring perubahan zaman, sampai akhirnya menjadi bahasa Sunda masa sekarang. Keberadaan bahasa Sunda kuna dapat dipastikan berdasarkan temuan wacana tertulis dari zamannya, baik yang berupa puisi maupun prosa, seperti yang ditemukan pada naskah-naskah. Meskipun belum dilakukan kajian secara khusus mengenai bahasa Sunda kuna, hampir bisa dipastikan bahwa perubahannya hingga menjadi bahasa Sunda modern setidaknya dapat dilihat dari kekayaan kosataka, morfologi, dan sintaksisnya (Iskandarwassid, :156).

Berdasarkan bentuk penyajiannya, bahasa Sunda kuna dituliskan dalam puisi dan prosa. Sedangkan berdasarkan isi kandungannya, bahasa Sunda kuna digunakan untuk merekam kisah sejarah dan ajaran keagamaan. Dalam naskah Sunda kuna ditemukan teks puisi sejarah, puisi keagamaan, prosa sejarah, dan prosa keagamaan.

1. Puisi

Bahasa Sunda kuna tampaknya lebih banyak terdokumentasikan dalam tulisan berbentuk puisi. Isinya terkandung nilai sejarah dan keagamaan. Naskah-naskah dengan teks berbentuk puisi keagamaan antara lain Sri Ajnyana (Noorduyn & Teeuw, 2009), Jatiniskala (Ayat Rohaedi dkk., 1987)(Darsa & Ekadjati, 2004), Séwaka Darma (Darsa, 2012), dan Darmajati (Darsa dkk. 2004). Teks puisi berbahasa Sunda kuna yang berisi kisah sejarah di antaranya Carita Ratu Pakuan (Atja, 1970), Kala Purbaka (Gunawan, 2009), dan Carita Purnawijaya (Pleyte, 1914), Bujangga Manik dan Kisah Para Putra Rama dan Rahwana (Noorduyn & Teeuw, 2009).

Contoh teks puisi keagamaan:

Sri Ajnyana

Sakit geui ngareungeuheun,
cicing hanteu dék matingtim,
usma ku raga sarira.
Béngkéng upapen rasana,
dosa a(ng)geus kanyahoan,
ngeureuy teuing gawé hala,
hanteu burung katalayahan,
Ja kini teuing rasana,
Kasasar jadi manusa.
Saurna Sri Ajnyana:
‘Adiing, ambet ka dini.
Mulah ceurik nangtung dinya.
Dini di lahunan aing.
Tuluy dirawu dipangku
Menderita, cemas,Diam, tidak mau berbicara,
Panas, marah dalam badannya.
Dia merasa lebah dan tidak pasti,
dosanya sudah diketahui,
sangat menyesali perbuatan buruknya,
karena akan masuk ke dalam kesengsaraan.
Karena ia telah merasakannya,
terdampar menjadi manusia.
Sri Ajnyana berkata:
Adikku, marilah ke sini.
Jangan menangis, berdiri di situ.
Ke sini ke pangkuanku.
Lalu diraih ke pangkuannya.

Contoh teks puisi sejarah:

Bujangga Manik

Sau(n)dur aing ti U(m)bul,
sadiri ti Pakancilan,
sadatang ka Wi(n)du Cinta,
cu(n)duk aing ka mangu(n)tur,
ngalalar ka Pancawara,
ngahusir ka lebuh ageung,
na leu(m)pang saceu(n)dung kaén.
Séok na janma nu carék:
Tohaan nu dék kamana?
Mana sinarieun teuing
téka leumpang sosorangan?
Setelah kutinggalkan Umbul,
setelah pergi dari Pakancilan,
datang ke Windu Cinta,
tibalah aku ke halaman luar,
berjalan léwat Pancawara,
menuju ke lapangan luas,
berjalan dengan kepala tertutup kain.
Beitu ramai orang bertanya:
Akan pergi ke manakah Pangeran?
Tak seperti biasanya
Sampai berjalan sendirian?
  1. Prosa

Prosa adalah bentuk lain yang digunakan untuk merekam bahasa Sunda kuna. Sedangkan isinya dapat berupa kisah sejarah maupun teks keagamaan. Teks yang berisi kisah sejarah terdapat pada naskah-naskah seperti Carita Parahyangan (Atja, 1986) dan Amanat Galunggung (Atja & Danasasmita, 1981). Naskah prosa yang mengandung teks keagamaan di antaranya Serat Séwaka Darma (Darsa, 1998), Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Atja & Danasasmita, 1981), & Sanghyang Sasana Maha Guru (Gunawan, 2009).

Contoh teks prosa sejarah:

Amanat Galunggung

Awignam astu. Nihan tembey sakakala Rahyang Ba/n/nga, masa sya nyususk na Pakwan makangaran Rahyangta Wuwus, maka manak Maharaja Dewata, Maharaja Dewata maka manak Baduga Sanghyang, Baduga Sanghyang maka manak Prebu Sanghyang, Prebu Sanghyang maka manak Sa(ng) Lumahing rana, Sang Lumahing Rana maka manak Sa(ng) Lumahing Winduraja, Sa(ng) Lumahing Winduraja maka manak Sa(ng) Lumahing Tasikpa(n)jang, Sang Lumahing Tasik pa(n)jang (maka manak) Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang, Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang maka manak Rakeyan Darmasiksa.

Contoh teks prosa keagamaan:

Sanghyang Siksa Kandang Karesian (630):

Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba ngarana.

(Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, ber­sih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi. kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup. se­lalu sehat. sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan; Rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau su­bur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.)

Sanghyang Sasana Maha Guru (629):

Nihan kéngetakeun muwah, sang séwaka darma. Hana pañca triyak ngaranya. Ini byaktana: paksa, paksi, sarpa, mina, pépélika(n). Paksu ma ngaranya, sawatek satwa di (da)yeuh. Paksi ma ngaranya, sawatek satwa di sisi. Sarpa ma ngaranya, sawatek nu napak hareguna. Mina ngaranya, sawate/17v/k satwa di cai. Pépélikan ngaranya, sawatek nu mawa cangkang, nu kumarayap hanteu ñahwaan. Lawasnya, sakéng raka, séwu satus tahun. Nihan sinangguh pañcatriyak ngaranya.

(Ini juga yang harus diingat, oleh para pengabdi darma. Ada yang disebut lima hewan ‘pancatriyak’. Inilah penjelasannya: paksu itu sejenis hewan darat, burung itu sejenis hewan-hewan di pinggir. Ular itu sejenis hewan yang dadanya menapak tanah. Ikan itu sejenis hewan di air. Binatang melata ‘pepelikan’ itu, sejenis hewan yang membawa tempurung, yang merayap tanpa diketahui. Lamanya, dari neraka, seribu seratus tahun. Inilah yang disebut lima hewan ‘pancatriyak’.)

Telaah Kebahasaan

Telaah mengenai bahasa Sunda kuna telah diupayakan oleh beberapa peneliti. Penelitian bahasa Sunda kuna oleh Noorduyn & A Teeuw (2009) terhadap tiga naskah puisi Sunda kuna, merupakan upaya yang cukup mendalam yang dilakukan oleh peneliti asing. Kajiannya mencakup sistem bunyi, afiksasi, perbendaharaan kata, perbandingan bahasa Sunda kuna dengan bahasa Sunda modern, serta perbandingan dengan bahasa Jawa kuna. Darsa dkk. (1995) juga telah melakukan penelitian strukutur fonologi dan morfologi bahas Sunda kuna pada naskah Carita Parahyangan. Kemudian pada tahun yang sama (1995) Ruhaliah pernah melakukan penelitian historis komparatif bahasa Sunda kuna pada naskah Amanat Galunggung. Sedangkan Edi S. Ekadjati (2005) melakukan membahas struktur kalimat bahasa Sunda kuna secara umum, yang terdapat pada beberapa prasasti dan naskah.

Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian awal bahasa Sunda kuno oleh J. Noorduyn dan A Teeuw (2009:83), dapat dijadikan sebagai gambaran umum tentang keadaan bahasa Sunda kuna. Berikut kesimpulannya:

  1. Perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda kuna pada ketiga puisi tersebut sangat berkaitan dengan bahasa Sunda modern.
  2. Sedikti banyak, ada perbedaan dalam bentuk fonetis kata-kata dalam bahasa Sunda kuna jika dibandingkan dengan padanannya dalam bahasa Sunda modern. Perbedaan antara vokal eu-u SdK dan i-u SdM merupakan contoh yang paling menarik.
  3. Ada sejumlah kata dalam teks-teks tersebut yang unik dalam arti kata-kata itu tidak tercatat baik dalam bahasa Sunda modern maupun dalam bahasa Jawa (kuna).
  4. Banyak persamaan khusus di antara perbendaharanaan kata JwK dan SdK. Hal ini mencakup kata-kata yang berasal dari bahasa Indonesia dan kata-kata yang diserap dari bahasa Sanskerta. Sebagian besar kata-kata yang diserap dari bahasa Sanskerta merupakan istilah keagamaan dan filosofis yang berkaitan dengan Syiwaisme. Sering kali sulit dikatakan apakah persesuaian demikian membuktikan adanya sumber JwK/SdK ataukah membuktikan adanya penyerapan kata dari JwK.
  5. Tidak ada contoh yang jelas mengenai penerapan kata dari bahasa Sanskerta yang bersifat khusus bagi bahasa Sunda.
  6. Ada sejumlah pengaruh dari bahasa Melayu pada perbendaharaan kata dalam teks-teks tersebut.
  7. Pengaruh dari bahasa-bahasa lainnya bersifat sporadis; ada beberapa kata dari bahasa Arab yang bisa jadi diserap melalui bahasa Jawa; dan ada beberapa contoh (meragukan) mengenai kata dari bahasa Portugis dalam puisi mengenai keturunan Rawana.

Referensi:

  • Darsa, Undang A. 2012. Séwaka Darma: Peti Tiga Ciburuy Garut. Bandung: Pusat Studi Sunda.
  • Ekadjati, Edi S. 2009. Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Jakarta: Pustaka Jaya
  • Gunawan, Aditia. 2009. Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan. Jakarta: PNRI
  • Iskandarwassid. . Kamus Istilah Sastra. Bandung: CV Geger Sunten.
  • Noorduyn, J & Teeuw, A. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya
Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com