Naskah, Sejarah Kuna, dan Arkeologi di Tatar Sunda

Oleh Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

I

Kajian terhadap naskah kuna yang berasal dari Tatar Sunda hingga sekarang ini tetap berlangsung, jumlah temuan naskah yang berhasil didata dari tahun ke tahun terus bertambah hingga sekarang. Telaah terhadap sejumlah naskah kuna dari Tatar Sunda juga telah banyak dilakukan, baik oleh kalangan ahli dalam negeri atau pun juga ahli-ahli asing. Walaupun demikian tetap dirasakan bahwa kajian terhadap naskah-naskah Tatar Sunda tersebut harus lebih ditingkatkan lagi, sebelum warisan karuhun tersebut hancur dimakan usia.

Para ahli filologi yang telah bersusah payah menelaah berbagai naskah kuna tersebut sebenarnya menyediakan data berharga bagi penelisikan lebih lanjut disiplin yang berkenaan dengan data dalam naskah. Sebagaimana diketahui isi naskah dari Tatar Sunda cukup beraneka, ada yang berkenaan dengan ajaran keagamaan Sunda Kuna, ajaran agama Islam, sejarah politik masa silam, kisah mitos, kisah keislaman, dan lainnya lagi. Semua naskah yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan tersebut adalah data otentik, adalah sejumlah data mentah yang dapat dipilih dan dipergunakan oleh para ahli sejarah agama, sejarah kebudayaan, sejarah politik, dan juga ahli arkeologi untuk mendukung dan memperkuat tafsiran-tafsirannya. Selama ini naskah-naskah yang telah berhasil diteliti oleh para pakar filologi hanya sedikit saja yang diapresiasi oleh rekan-rekan sesama peneliti dari disiplin lain, oleh karena itu data yang berlimpah dari hasil kajian filologi tersebut seakan-akan tidak dapat ditindaklanjuti, terhenti sebagai laporan yang dikoleksi perpustakaan-perpustakaan. Jika saja para peneliti sejarah agama, sejarah kebudayaan, sejarah politik, dan ahli arkeologi mau menengok sejenak hasil-hasil kajian filologi, niscaya banyak tafsiran sejarah kebudayaan, sejarah kuno, dan arkeologi di Tatar Sunda yang dapat diperluas lagi pemahamannya.

II

Dua naskah kuna dari Tatar Sunda yang dipandang penting dan telah dialihaksarakan dan diterjemahkan adalah: (1) Carita Parahyangan, dan (2) Bujangga Manik. Kedua naskah tersebut apabila dikaji secara seksama oleh para ahli sejarah agama Sunda Kuna, sejarah politik, kebudayaan kuna, dan arkeologi dapat dipastikan akan menghasilkan sudut pandang baru bagi pengetahuan masa silam Tatar Sunda. Kedua naskah tersebut dapat dipandang penting karena:

1. Dapat dianggap sebagai tonggak atau monumental manakala membicarakan sejarah politik (kitab Carita Parahyangan), dan jika membicarakan perkembangan kebudayaan dalam abad ke-15—16 yang jadi monumen adalah kitab Bujangga Manik.
2. Walaupun disusun pada sekitar pertengahan abad ke-16, Carita Parahyangan cukup luas memperbincangkan masa awal Tatar Sunda; disusul gambaran sejarah raja-raja Tatar Sunda selanjutnya; sedangkan Bujangga Manik menguraikan dengan penuh metafora suasana Tatar Sunda dan Pulau Jawa pada umumnya –terutama tempat-tempat keagamaannya– dalam masa akhir kebudayaan yang bercorak Hindu-Buddha.

3. Carita Parahyangan sangat mungkin digubah oleh kaum agamawan yang bermukim di suatu komunitas keagamaan yang jauh dari pusat kekuasaan, pedukuhan kaum keagamaan itu acapkali dinamakan dengan patapan atau kabuyutan; sedangkan naskah Bujangga Manik disusun oleh warga keraton Pakuan Pajajaran yang nama aslinya Rakeyan Jaya Pakuan, ia kemudian memilih hidup sebagai agamawan. Jadi kedua naskah itu mewakili dua golongan yang berbeda, yaitu kaum agamawan dan kaum kerabat keraton.

Dalam pada itu Carita Parahyangan mempunyai keistimewaannya sendiri yang tidak dimiliki oleh naskah Sunda Kuna ataupun naskah-naskah Jawa Kuna. Keistimewaan itu adalah Carita Parahyangan merupakan satu-satunya naskah yang membicarakan secara panjang lebar tokoh Sanjaya yang merupakan pendiri kerajaan Mataram Kuna di Tanah Jawa (Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya). Sanjaya dikenal dalam prasasti Canggal yang bertitimangsa 654 Saka (732 M) yang didapatkan di bukit Gunung Wukir, wilayah Muntilan, Magelang. Dinyatakan dalam prasasti itu antara lain:
“Selama raja ini memerintah kerajaannja…., maka orang jang tidur di tepi djalan raja tidak takut akan pendjahat dan bahaja lain-lainnja. Oleh manusia jang kaja akan nama-baik tertjapailah selalu kesenangan, kefaedahan dan kebaikan dengan cukup. Sekarang sang Kali seolah-olah hanja menangis-nangis saja, sebab tidak dapat bahagian suatu apa” (Poerbatjaraka 1952: 55).

Adapun dalam Carita Parahyangan diuraikan secara panjang lebar awal kehidupan dan perjuangan Sanjaya dalam memperluas wilayah kekuasaannya, dan keadaan kerajaannya yang juga aman sejahtera. Dengan demikian terdapat kesesuaian antara uraian prasasti dan Carita Parahyangan. Maka dapat kiranya dinyatakan bahwa Sanjaya itu adalah orang Sunda, keturunan Galuh Kuna yang akhirnya mendirikan kerajaan di wilayah Jawa bagian tengah, anak keturunannya terus memerintah di wilayah itu hingga awal abad ke-10 M.

Carita Parahyangan juga mempunyai kemiripan dalam hal pola isi tulisan dengan Serat Pararaton. Kedua kitab itu memerikan menjadi 2 bagian, bagian pertama berurai tentang tokoh yang menjadi panutan raja-raja sesudahnya, seorang tokoh besar yang berhasil mendirikan kerajaan yang jaya; adapun bagian kedua menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah setelah masa hidup tokoh besar tersebut (Munandar 2004: 63). Dalam Carita Parahyangan, tokoh besar itu tidak lain adalah Sanjaya, sedangkan dalam Pararaton tokoh besar yang diuraikan ialah Ken Angrok. Bagian kedua dari Carita Parahyangan menarasikan raja-raja di Tatar Sunda setelah pemerintahan Sanjaya hingga masa keruntuhan kerajaan Sunda oleh tentara Islam Banten. Begitupun dalam Pararaton setelah berakhirnya kisah Ken Angrok, uraian dilanjutkan dengan kisah para raja Singhasari pengganti Ken Angrok, lalu dilanjutkan dengan kisah raja-raja Majapahit dari masa awal, pertumbuhan, puncak kejayaan, era kemerosotan, hingga jatuhnya pemerintahan Bhre Krtabhumi dalam tahun 1400 Saka (1478 M). Agaknya kedua kitab itu oleh para penyusunnya dimaksudkan sebagai kitab sejarah masa silam dalam pengertian zamannya. Sejarah tokoh-tokoh Sunda Kuna diuraikan dalam Carita Parahyangan, dan sejarah raja-raja Singhasari-Majapahit didokumentasikan dalam kitab Pararaton. Demikianlah dapat diketahui bahwa Carita Parahyangan merupakan kitab Sunda Kuna yang lebih bercirikan kesejarahan, dan setara kedudukannya dengan Pararaton dalam kebudayaan Jawa Kuna.

Kitab kedua adalah Bujangga Manik, kitab tersebut telah dialihaksarakan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, merupakan naskah yang sarat dengan informasi tentang bangunan suci, pertapaan, mandala, sakakala, serta gunung-gunung dan bukit yang dianggap keramat di Jawa pada sekitar abad ke-15 M yang pernah dikunjungi atau dilalui oleh Bujangga Manik. Penerbitan naskah itu diusahakan oleh J.Noorduyn dan A.Teeuw bersama 2 naskah Sunda Kuna lainnya dengan judul Three Old Sundanese poems (2006).

Perihal naskah Bujangga Manik sebenarnya telah lama diumumkan oleh Noorduyn dalam tahun 1982. Artikelnya yang berkenaan dengan naskah Bujangga Manik berjudul ”Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical data from an old Sundanese source”, diterbitkan dalam Bijdragen tot de taal, land,-en volkenkunde. Deel 138 4e Aflevering, halaman 413—442. Berdasarkan uraian isinya yang menyebutkan Majapahit, Malaka, dan Demak, Noorduyn menyatakan bahwa naskah tersebut disusun pada bagian akhir abad ke-15 atau pada awal abad ke-16 M (Noorduyn 1982: 414). Dalam artikel tersebut Noorduyn menegaskan bahwa uraian naskah Bujangga Manik justru penting sebagai data topografi karena menyebutkan berbagai lokasi di tanah Jawa baik Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Sebagian besar nama lokasi yang dinyatakan dalam naskah masih dapat dikenali sampai sekarang, namun sebagian lagi belum dapat diketahui secara pasti (Noorduyn 1982: 413—4). Adapun dalam terbitan lengkap naskah Bujangga Manik yang dilakukan oleh Noorduyn dan Teeuw (2006) dinyatakan bahwa isi naskah tersebut adalah uraian perjalanan ziarah yang dilakukan oleh tokoh Bujangga Manik.

Uraian yang disusun oleh Bujangga Manik memang merupakan perjalanan mengunjungi berbagai tempat suci yang dikenal pada masanya, perjalanan itu tentu dapat digolongkan sebagai suatu perjalanan ziarah. Berbagai tempat suci yang terdapat di pelosok-pelosok Pulau Jawa dikunjungi oleh Bujangga Manik, ia melakukan perjalanan melalui banyak daerah, maka sudah barangtentu disebutkan pula nama wilayah, hutan, lembah, sungai, bukit, gunung, dan lain-lain yang telah dilaluinya. Data perihal daerah-daerah dan berbagai fenomena geografis itu dapat dipandang sebagai data topografi, oleh karena itu naskah Bujangga Manik menjadi penting untuk mengetahui keadaan topografis Jawa antara abad 15—16 M. Selain itu terdapat pula data lain yang dapat dijadikan data pendukung untuk melakukan penelitian yang bersifat sejarah kebudayaan dan arkeologis. Mungkin para peneliti yang mendalami bidang-bidang tersebut dapat menggunakannya di masa mendatang.

III

Apa yang diuraikan dalam kitab Carita Parahyangan dan Bujangga Manik sebenarnya merupakan data yang dapat dipergunakan oleh para peneliti kemasalaluan lainnya di luar bidang filologi. Selanjutnya adalah tinggal kemauan dan kemampuan para ahli di luar filologi (sejarah dan arkeologi) untuk dapat memanfaatkan data yang sudah tersedia tersebut. Berdasarkan “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (kropak 406)” yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Undang A.Darsa & Edi S.Ekadjati (2003), dapat dikemukakan adanya data sejarah kebudayaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam Fragmen Carita Parahyangan terdapat ungkapan yang menarik sebagai berikut:
Carek Maharaja Trarusbawa, “Sang Resi enak sila seuweu mati(ng)timkeun na bumi bwana, andelan siya ma jagat kreta. Sang Rama miseuyeut sila seuweu matingtimkeun darmasasana, andelan siya ma jagat darana. Sang Prebu enak ambek peuyeut sila seuweu matingtimkeun rajasasana, andelan siya ma jagat palaka” (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 188).

Terjemahannya kurang lebih:
Ucap Maharaja Trarusbawa: “Sang Resi selayaknya menentramkan buana, tugas utamanya menyejahterakan alam, Sang Rama selayaknya mengawal ajaran darma, tugas utamanya sebagai pembimbing alam kehidupan. Sang Prabu selayaknya melaksanakan ajaran raja, tugas utamanya melaksanakan pemerintahan”.

Dalam masyarakat kuna di lingkungan Kerajaan Sunda ternyata terdapat 3 pemimpin yang menjadi panutan, yaitu resi, rama, dan raja (prebu). Tiga tokoh tersebut kiranya penting dalam masanya, namun belum banyak diungkapkan oleh para peneliti sejarah (kebudayaan) Sunda kuna. Dalam bagian lain Fragmen Carita Parahyangan dinyatakan: “bayu maduuman Sang Prebu, sabda maduuman Sang Rama, hedap duumkeun ka Sang Resi” (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 188). Artinya kurang lebih: “wibawa dimiliki oleh Sang Prabu, ucapan dimiliki oleh Sang Rama, dan tekad miliknya Sang Resi”. Arti ungkapan itu sungguh jelas bahwa Raja memang harus memelihara kewibawaannya, jika raja tidak punya wibawa maka kekuasaannya pasti pudar, dan dia segera jatuh dari tahtanya. Ucapan yang berupa petuah dan contoh-contoh peri kehidupan yang baik agar dapat hidup sejahtera harus selalu disampaikan oleh Rama, ia adalah pembimbing langsung masyarakat, karena ia yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Adapun tekad dan niat yang baik selalu diajarkan oleh para Resi, mereka adalah golongan yang mempunyai tekad yang pasti, tekad untuk selalu menjalankan ibadah agamanya, tekad untuk dapat bersatu dengan Hyang pujaannya.

Hal menarik yang sukar untuk dijelaskan adalah ungkapan dalam kitab yang sama berbunyi: “Sang Resi ngagurat cai, sang Rama ngagurat lemah, sang prebu ngagurat batu” (Darsa & Edi S.Ekadjati 2003: 187). Apakah arti ungkapan itu?, para filolog telah menyajikan datanya, tinggal para ahli sejarah dan peminat kajian kebudayaan Sunda Kuna yang meneruskan untuk dapat menjelaskan ungkapan itu.

Mengenai adanya 3 tokoh panutan masyarakat Sunda Kuna yang telah disebutkan tersebut, ternyata sampai sekarang masih dikenal dalam masyarakat Kanekes (Baduy) di Banten Selatan. Dalam lingkungan Tangtu (Baduy Dalam) terdapat 3 desa Kapuunan, yaitu Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Puun Cikeusik dinamakan juga Puun Rama, Puun Cikartawana disebut Puun Resi, dan Puun Cibeo dijuluki Puun Ponggawa (Prebu) (Danasasmita & Anis Djatisunda 1986: 17). Dengan demikian kajian yang mendalam perihal sistem pemerintahan Sunda Kuna tersebut agaknya juga perlu memperhatikan data etnografi yang sampai sekarang masih terjaga baik di lingkungan masyarakat Kanekes.

Contoh lain dari data hasil kajian filologi Sunda Kuna berkenaan dengan naskah Bujangga Manik yang mestinya dapat ditindaklanjuti oleh para arkeolog. Dalam naskah Bujangga Manik antara lain dijelaskan bahwa setelah ia kembali dari perjalanannya ke wilayah Jawa (Jawa bagian tengah dan timur), tokoh tersebut tinggal di suatu tempat untuk melakukan pemujaan. Di tempat itu ia menetap selama beberapa waktu, ia kemudian mendirikan arca dan lingga. Perhatikan kutipan berikut:

1280
“sacu[n]duk ka gunung se[m]bung,
eta hulu citarum,
di inya aing ditapa,
sa[m]bian ngeureunan palay,
Tehering puja nyanggraha,

1285
Puja [nya]pu mugu-mugu.
Tehering na[n]jeurkeun li[ng]ga
Tehering nyian hareca
Teher nyian sakakala.
Ini tu[n]jukeun sakalih,

1290
Tu[n]jukeun ka nu pa[n]deuri,
Maring aing pa[n]teg hanca…”

Dalam kutipan tersebut dinyatakan kurang lebih bahwa setelah Bujangga Manik sampai di Gunung Sembung, tempat mata air Citarum, ia kemudian bertapa seraya menghentikan semua keinginan. Ia melakukan pemujaan dengan sepenuh hati, mendirikan lingga, membuat arca dan bangunan suci, untuk bukti pada semua orang, bukti bagi mereka di zaman belakangan bahwa tugas telah selesai, tiada perlu berlanjut.

Hal yang menarik adalah pernyataan bahwa Bujangga Manik mendirikan bangunan suci dan juga menegakkan lingga dan arca. Lingga dalam tradisi Sunda Kuna tidak harus berarti lingga yang lengkap dengan bagian Rudrabhaga, Brahmabhaga, dan Wisnubhaga, sebagaimana yang didapatkan dalam kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa bagian tengah dan timur. Di situs Astana Gede Kawali, Ciamis, terdapat batu alami yang ditegakkan tidak mirip lingga sebenarnya, namun di batu itu terdapat inskripsi yang berbunyi “sang hyang lingga hyang” (Prasasti Kawali III) dan di batu tegak lainnya ditulisi “sang hyang lingga bingba” (Prasasti Kawali IV). Artinya batu tegak itu dipandang sebagai lingga sebenarnya, walaupun bentuknya hanya batu alami agak pipih dan lonjong yang ditancapkan berdiri di tanah. Apabila tidak ada inskripsinya, maka batu-batu tegak di Astana Gede, Kawali, akan dianggap sama dengan menhir-menhir yang dijumpai di berbagai situs di Jawa Barat, termasuk pula yang banyak didapatkan di situs-situs wilayah Sindangbarang, Bogor.

Adapun arca-arca yang dibuat oleh Bujangga Manik sangat mungkin berbentuk arca-arca sederhana yang umum pula didapatkan di dekat kelompok menhir di berbagai situs di Jawa bagian Barat, arca-arca demikian sering dinamakan arca tipe Pajajaran, arca bercorak megalitik, atau arca tipe Polynesia. Mengenai arca-arca sederhana itu memang banyak dijumpai, beberapa di antaranya terlihat adanya pengaruh agama Hindu-Buddha, karena ada yang berwujud panteon Hindu dalam bentuk sederhana, ada pula yang menggambarkan tokoh dengan busana seperti dewa-dewa Hindu-Buddha, dan ada yang digarap sederhana saja hanya menunjukkan adanya bagian kepala, badan, dan kakinya (Mulia 1980: 598, 608—615, dan 635).

Pada bagian lain naskah Bujangga Manik menyatakan sebagai berikut:

1400
“…Momogana teka waya:
neumu lemah kabuyutan,

1405
na lemah ngali[ng]ga manik,
Teherna dek sri ma[ng]liput,
ser manggung ngalingga payung,
nyanghareup na Bahu Mitra,
Ku ngaing geus dibabakan,

1410
dibalay di undak-undak,
dibalay sakulilingna
ti handap ku mungkal datar,
ser manggung ku mu[ng]kal bener
ti luhur ku batu putih…”

Memang banyak kata yang belum dapat diketahui artinya secara pasti, namun kira-kira terjemahan bebasnya adalah: “…menemukan tanah kabuyutan, tanah yang seperti lingga permata, sebenarnya seluruh area itu mencakup wilayah yang meninggi, bagaikan lingga yang bersifat melindungi, mengarah ke rangkaian pegunungan, oleh saya telah lahannya telah dirapikan. Ditata, diratakan dengan batu-batu dan dibuat bertingkat. Diratakan dengan batu-batu daerah sekitarnya, di bagian bawah dengan batu-batu datar, di area atasnya dengan batu-batu yang baik dan kuat, dan di puncaknya dengan batu-batu putih”.

Demikianlah sumber naskah yang otentik menyatakan bahwa bangunan suci pada masa Kerajaan Sunda hanyalah berupa punden berundak yang terasnya dibalay dan dilengkapi dengan batu-batu untuk memperkuat dataran yang rata pada teras-teras tersebut. Objek sakralnya yang sering disebut-sebut adalah lingga, tetapi lingga yang dimaksudkan adalah batu alami ditegakkan yang dalam lingkup tradisi megalitik sering disebut dengan menhir. Maka haruslah dipahami sekarang bahwa berbagai bangunan punden berundak yang terdapat di Jawa bagian barat tidak seluruhnya berasal dari tradisi megalitik prasejarah, tetapi terdapat juga bangunan berundak dengan menhir-menhirnya yang berasal dari masa sejarah, dari era Kerajaan Sunda. Mungkin apabila di sekitar punden berundak tersebut ditemukan pula artefak prasejarah lainnya seperti kampak batu, kampak perunggu, peralatan logam, dan lain-lain, maka dapat ditafsirkan bahwa punden berundak tersebut memang berasal dari periode prasejarah. Jika tidak ada artefak prasejarah, maka punden-punden itu berasal dari masa sejarah, hanya bangunannya saja yang mengikut bentuk punden prasejarah.

Artinya para arkeolog harus mulai memikirkan adanya pergeseran paradigma penelitian jika menggarap monumen-monumen megalitik yang berada di Tatar Sunda. Semula ada anggapan bahwa monumen-monumen dengan bentuk megalitik tersebut berasal dari masa prasejarah, tetapi sekarang pandangan itu harus hati-hati dalam penerapannya, sebab telah terbukti banyak situs di Tatar Sunda yang semula dianggap sebagai monumen megalitik, ternyata adalah monumen-monumen keagamaan dari masa kerajaan Sunda (Munandar 2008: 16—2).

IV

Apa yang telah diuraikan dalam risalah ini hanyalah sekedar contoh bahwa betapa terdapat kaitan yang erat antara kajian filologi, sejarah kuna (politik & kebudayaan), dan arkeologi di Tatar Sunda. Kajian sejarah kuna dan arkeologi di Tatar Sunda tidak mungkin dapat berjalan sendiri, sebagaimana yang mungkin terjadi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Tatar Sunda tidak menyediakan banyak data tertulis lainnya di luar naskah (prasasti-prasasti), dan tidak juga meninggalkan data arkeologis yang berlimpah. Prasasti yang ditinggalkan oleh nenek moyang orang Sunda cukup terbatas, begitupun peninggalan monumental dan arca di Tatar Sunda juga dapat dihitung jari, oleh karena itu sandaran terhadap hasil kajian filologi menjadi begitu penting untuk menggarap sejarah kuna dan arkeologi Tatar Sunda.

Sudah tentu banyak naskah lainnya di luar Carita Parahyangan dan Bujangga Manik yang telah digarap oleh para ahli datanya dapat dipergunakan untuk studi-studi kemasalaluan. Naskah Serat Dewabuda sebenarnya cukup unik dalam bidang ajaran keagamaan Sunda Kuna, sebab selain digubah dalam bahasa Jawa Kuna, isinya pun masih sukar untuk diartikan secara lugas, sebab penuh perlambangan. Begitupun berkas naskah yang dihasilkan scriptorium Galunggung antara lain Sang Hyang Siksakanda ng Karesian, Jati Niskala, Kawih Paningkes, Jatiraga, sebenarnya berisikan data berlimpah tentang gambaran masyarakat Sunda Kuna dan kehidupan keagamaannya. Suatu kajian tentang religi Sunda Kuna yang seksama hingga sekarang masih belum dilakukan oleh para ahli sejarah kebudayaan Sunda, padahal data yang cukup kaya telah lama tersedia dan menanti untuk diolah lagi. Adapun naskah-naskah Pangeran Wangsakerta yang ditemukan secara berangsur dari wilayah Cirebon, seperti Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, Pustaka Pararatwan i Jawadwipa, dan Nagarakrtabhumi, sampai sekarang telah banyak diperbincangkan oleh para ahli, namun para ahli masih berhati-hati dalam menggunakannya sebagai sumber sejarah. Hal itu dikarenakan bahwa naskah itu uraian isinya hampir sama, menjelaskan secara panjang lebar hal-hal yang selama ini masih gelap, karena itu perlu dukungan data lainnya, baik dari sumber tertulis lainnya, ataupun dari temuan-temuan baru di bidang arkeologi.

Pada akhirnya dapat dinyatakan mungkin saja naskah-naskah Sunda Kuna dapat digunakan untuk memperluas pemahaman tentang masalah sejarah kuna dan arkeologi yang telah menjadi bahan perdebatan para ahli. Sebagai contoh adalah masalah lokasi keraton Majapahit yang belum pasti benar, Para pakar arkeologi-sejarah kuna terbagi dua, ada yang menyatakan bukan di situs Trowulan (Mojokerto) sekarang, namun ada pula yang bersikukuh harus berada di Trowulan, ketika ditanya dimana kira-kira letak tepatnya?, kelompok kedua pun masih belum dapat menjawabnya.
Naskah Bujangga Manik walaupun serba ringkas menguraikan patokannya sebagai berikut:
“ngalalar aing ka bubat, cu(n)duk aing ka mangu(n)tur, ka buruan majapahit, ngalalar ka dar/ma anyar, na karang kajramanaan. ti kidulna karang jaka. sadatang ka pali(n)tahan, samu(ng)kur ti Majapahit, na(n)jak ka gunung Pawitra…” (Noorduyn 2006: 258)

Uraian itu sebenarnya dapat menjadi kunci untuk mengidentifikasikan di mana letak tepatnya kedaton Majapahit. Dalam bagian sebelum kutipan itu Bujangga Manik datang dari arah utara-barat (barat laut) menuju ke selatan, sampai di tanah lapang Bubat. Lalu berjalan lagi ke selatan sampailah ia di manguntur (tanah lapang luas), halaman depan keraton Majapahit. Dia kemudian berkunjung ke Darma Anyar, mungkin suatu candi pendharmaan yang baru didirikan, di lingkungan Karang Ka(va)jramanaan (sangat mungkin wihara para bhiksu Bauddha), ke selatan lagi ke Karang Jaka (sangat mungkin merupakan cluster/asrama kaum agamawan yang tidak menikah), dan akhirnya datanglah ke Palintahan, sebelum ia meninggalkan (kota) Majapahit untuk menuju ke selatan-timur ke arah Gunung Penanggungan (Pawitra). Palintahan sangat mungkin adalah nama metafora tempat para siswa menghisap ilmu (sebagaimana lintah menghisap darah) dari para guru agama mereka yang masih berada di lingkungan kota Majapahit (mungkin di area selatan keraton), dan pada akhirnya Bujangga manik pergi meninggalkan Majapahit. Itulah kunjungan Bujangga Manik ke Majapahit.

Di antara sejumlah nama tempat yang disebutkan tersebut, nama lokasi Palintahan sampai sekarang masih dikenal, terletak di selatan blok Kedaton di situs Trowulan. Dapat diasumsikan bahwa semua nama tempat tersebut sebenarnya dahulu pernah ada di wilayah Trowulan, karena berkenaan dengan monumen atau bangunan tertentu, maka ketika bangunannya telah runtuh atau lenyap maka tidak dikenal lagi. Berdasarkan arah perjalanan Bujangga Manik yang datang dari arah barat-utara, menuju Bubat, masuk kota, sampai di halaman depan keraton, dan meninggalkan Majapahit ke arah Pawitra, dapat dipastikan bahwa kedaton Majapahit berdasarkan tafsir dari naskah Bujangga Manik mestinya terletak di situs Trowulan, tinggal penelitian arkeologi yang intensif saja yang dapat membuktikan lokasi tepat keraton tersebut.
Demikianlah sebenarnya kajian kemasalaluan akan lebih sempurna lagi jika berjalan bersama-sama. Hasil telaah para filolog selayaknya dapat diteruskan dan dijadikan data bagi para ahli sejarah (politik, kebudayaan, kemasyarakatan, dan lain-lain), dan para ahli arkeologi. Hanya saja sampai sekarang baru sedikit para ahli yang bergelut dengan kemasalaluan itu yang memanfaatkan kajian naskah kuna yang telah digarap dengan susah payah oleh ahli filologi.

PUSTAKA ACUAN
ATJA, 1968, Carita Parahyangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusa Larang.
DANASASMITA, SALEH & ANIS DJATISUNDA, 1986, Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) , Direktorat Jendral Kebudayaan, Depdikbud.
DARSA, UNDANG A. & EDI S.EKADJATI, 2003, “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”, dalam Tulak Bala: Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda. Halaman 174—208.
MUNANDAR, AGUS ARIS, 2004, Sang Tohaan: Beberapa Kajian Pernaskahan dari Perspektif Arkeologi. Bogor: Akademia.
—————–, 2008, “Bangunan Suci dalam Masa Kerajaan Sunda: Tinjauan Terhadap Kerangka Analisis”, makalah dalam Seminar Revitalisasi Makna dan Khasanah Situs Sindangbarang. Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor Tanggal 20 April.
NOORDUYN, J., 1982, ”Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical dat from an old Sundanese source”, dalam Bijdragen tot de taal, land,-en volkenkunde. Deel 138 4e Aflevering. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. Halaman 413—442.
—————— & A.Teeuw, 2006, Three Old Sundanese poems. Leiden: KITLV Press.
POERBATJARAKA, R.M.Ng, 1952, Riwayat Indonesia Djilid I. Djakarta: Jajasan Pembangunan.
MULIA, RUMBI, 1980, “Beberapa Catatan Mengenai Arca-arca yang Disebut Arca Tipe Polinesia”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan, 21—25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 598—646.
12

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0
Updated: 13 Maret 2017 — 11:39

4 Komentar

Tambah Komentar
  1. selamat malammm.. mampir berkunjung numpang terkenal niy hehehe thx ya bro…

  2. hai salam kenal artikelmu udah ada di

    http://arkeologi.infogue.com/naskah_sejarah_kuna_dan_arkeologi_di_tatar_sunda

    gabung yuk n promosikan artikelmu di infoGue.com. Salam ^_^

  3. Hhhmmm… ayi, manawi teh tulisan saha…
    heuheuw….
    ku abi dicopy datana
    Nuhun ayi…

Tinggalkan Balasan ke vyerlla Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com