Sukarno Jadi Soekaarano, Satu Contoh Salah Papan Nama Jalan Beraksara Sunda

Kondisi papan nama jalan beraksara Sunda di Kota Bandung, Senin (15/1/2016).

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

Sumber:Tribun Jabar online ( Selasa, 26 Januari 2016)

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID – Penulisan aksara Sunda pada sejumlah papan nama jalan di Kota Bandung menyalahi aturan baku. Kesalahan penulisan itu menyebabkan rangkaian aksara Sunda ini memiliki bunyi dan arti lain saat dibaca, tidak seperti nama jalan yang seharusnya.

Kesalahan penulisan aksara Sunda terbaru terjadi pada papan nama Jalan Dr Ir Sukarno, yang baru diresmikan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, November 2015, menggantikan Jalan Cikapundung Timur. Dalam papan nama itu tertulis dalam huruf Latin “Jl. DR. Ir. Sukarno”.

Namun, penulisan aksara Sunda yang tertera di bawah tulisan itu keliru hingga jika dieja kembali dalam huruf Latin akan berbunyi “JL RI SOEKAARANO”. Selain terlalu banyak huruf vokal “A”, gelar Dr presiden pertama RI ini pun tidak tertulis dalam nama jalan beraksara Sunda.

“Bahkan, ditemukan tabrakan dalam aksara nama pertama SA, yang dapat dibaca SO atau SE. Dalam naskah-naskah Sunda akuno jika ada tabrakan atau yang ganda seperti ini, bisa disebut koreksi, dalam kata lain dianggap hilang. Jadi, bisa kalau dibaca KAARANO saja,” kata Ilham Nurwansah, pemerhati bahasa dan aksara Sunda yang juga alumnus Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda UPI Bandung, kepada Tribun, Sabtu (23/1/2016).

Ilham juga mengaku terkejut saat Tribun memperlihatkan foto papan nama aksara Sunda dari Jalan Homann dan Jalan Kebon Jukut. Jika ditulis dalam huruf Latin, aksara Sunda nama jalan tersebut masing- masing berbunyi “Nyala Hoang” dan “Jala Kebona Jukuta”.

Belakangan diketahui, kesalahan penulisan aksara Sunda juga terjadi pada papan nama Jalan Lengkong Besar, Jalan Lengkong Kecil, Jalan Inggit Ganarsih, dan lain-lain.

Di bawah tulisan “Jl. Lengkong Besar” terdapat aksara Sunda yang jika dibaca akan berbunyi “Nyla LengngaA Ongnga E Ara”. Dalam hal ini, aksara L dan R yang digunakan bukanlah dari aksara ngalagena atau yang biasa dipakai untuk konsonan, melainkan untuk rarangkén atau imbuhan.

Hal serupa terjadi pada papan nama di bawah tulisan “Jl. Lengkong Kecil” yang terdapat aksara Sunda berbunyi “Jala Lenagakonaga Kecila”. Di bawah papan nama jalan “Jl. Balonggede”, aksara Sunda yang ditulis berbunyi “Jala Baalonaga Gede”.

Sebelum dicabut untuk diperbaiki, kata Ilham, papan nama Jalan Inggit Garnasih pun mengalami kesalahan penulisan. Aksara Sunda yang ditulis di bawah nama jalan tak bisa dibaca sebagai Jalan Inggit Garnasih, melainkan “Jala Inagagita Gaamaasiha”.

“Tapi papan nama itu sudah dicabut karena penulisan nama lainnya, pada awalnya juga salah. Sebelumnya, kesalahan penulisan aksara sunda juga terjadi pada papan nama Jalan Wastukancana dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Jl. Wastukancana menjadi JL Wastajancana, sementara Jl Perintis Kemerdekaan menjadi Jl Parantas Kamadakaana,” kata Ilham.

Ukir Hitam

Ilham mengatakan, kesalahan penulisan aksara Sunda ini hanya terjadi pada sejumlah papan nama jalan berukir hitam, yang dipasang tahun lalu. Papan nama jalan sebelumnya, yang bentuknya lebih sederhana, memiliki penulisan aksara Sunda yang benar.

Meski demikian, ujarnya, ada juga papan nama jalan berukir hitam yang penulisan aksara Sunda yang benar. Contohnya, Jalan Braga dan Suniaraja, yang baru dipasang pada tahun lalu.

Lucunya, saat papan nama jalan yang lama dan papan nama jalan yang baru terletak perdampingan seperti di Jalan Balonggede dan Jalan Lengkong Kecil, terlihat dengan jelas perbedaan aksara Sunda pada dua papan tersebut. Karena itu, masyarakat yang tidak mengerti aksara Sunda sekalipun akan merasa janggal dengan perbedaan tersebut.

Kesalahan penulisan aksara Sunda ini, kata Ilham, terdeteksi dalam penggunaan yang salah atas aksara ngalagena atau yang sering dipakai konsonan, aksara swara atau vokal mandiri, dan rarangkén atau imbuhan.

Tidak sedikit aksara ngalagena yang tidak disertai rarangkén pamaéh sehingga memiliki bunyi vokal ganda. Selain itu, ditemukan keterbalikan penulisan rarangkén panéléng dengan rarangkén pamepet sehingga tertukar antara huruf é dan e. Banyak juga, imbuhan yang disalahgunakan menjadi aksara vokal atau konsonan. (*)

Naskah ini menjadi berita sorotan di halaman 1 Koran Tribun Jabar, Selasa (26/1/2016).

Ikuti dan bagikan:
0
SafelinkU | Shorten your link and earn money

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2018 Frontier Theme