Pembacaan Manuskrip Kuno Sunda di Depan Publik Jerman yang Menarik Penelitian

dok: Komite Nasional Indonesia Sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015

Frankfurt – Ajang Frankfurt BookFair 2015 tidak hanya menampilkan buku-buku baru. Namun ada juga replika naskah-naskah kuno yang dipamerkan. Salah satunya mansukrip sunda.

Aditya Gunawan, filolog dari Perpustakaan Nasional membawakan kawih Pangeuyeukan, sebuah catatan kuno yang dibuat pada sekitar abad 17 yang berisi tentang kawih saat para wanita sedang menenun. Dia melantunkannya dengan indah menggunakan alat musik kacapi di hadapan publik Jerman di arena paviliun Indonesia, Kamis (15/10/2015).

Beberapa pengunjung yang menyaksikan pembacaan manuskrip tersebut memberikan apresiasi cukup baik. Mereka memberikan aplaus kepada Aditya dan permainan alat musiknya.

Setelah itu, pria yang sedang menempuh pendidikan di Paris ini menceritakan latar belakang manuskrip tersebut. Menurutnya, naskah kuno itu adalah salah satu teks tertulis Sunda yang dibuat sebelum abad ke 18 yang sudah diterjemahkan.

“Naskah itu dari kerajaan Galuh. Dulu Bupati Kusumadiningrat mengumpulkan barang-barang artefak pra Islam. Lalu barang-barang itu disumbangkan ke kelompok Batavia Genootschape, sekarang jadi koleksi Perpustakaan Nasional,” terangnya kepada detikcom.

Naskah itu sangat penting keberadaannya karena menunjukkan posisi perempuan pada masa itu. Ternyata, ada juga karya sastra yang ditujukan untuk perempuan, di tengah dominasi laki-laki.

“Ini kan buat lantunan saat menenun, dewa yang disebut dalam kawih juga perempuan. Ada kemungkinan yang membuatnya juga perempuan,” terangnya.

Selain memaparkan manuskrip, Adit punya misi untuk mengajak peneliti luar negeri melakukan riset terhadap naskah-naskah kuno sunda yang lain. Menurutnya, masih ada sekitar 98 naskah kuno yang ditemukan, 20 di antaranya yang baru diterjemahkan.

“Jumlah itu sedikit, bila dibandingkan dengan naskah kuno Jawa. Tapi penelitiannya belum maksimal,” imbuhnya.

Menurut Adit, di beberapa naskah kuno sunda, sudah ada penyebutan negara Mesir, China dan Arab. Artinya, bangsa sunda kala itu sudah bergaul dengan manusia-manusia dari negara lain. Tak ada batas dan isolasi.

Dia berharap, lewat pertunjukkannya, penelitian terhadap manuskrip sunda akan banyak digalakan. Sejauh ini, ada seorang peneliti dari Hamburg yang menyatakan ketertarikannya.
(mad/hri)

 

Sumber: https://news.detik.com/berita/3045731/pembacaan-manuskrip-kuno-sunda-di-depan-publik-jerman-yang-menarik-penelitian

Ikuti dan bagikan:
error0
Updated: 21 Juni 2018 — 16:07

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *