SASTRA RITUAL, Wawacan Batara Kala, Wawacan Sulanjana

Judul: SASTRA RITUAL, Wawacan Batara Kala, Wawacan Sulanjana
Penyusun: Dr. Kalsum, M.Hum & Dra. Etti Rochaeti S., M.Hum.
Penerbit: Dunia Pustaka Jaya
Tahun: 2005
Jml Halaman: 104

Kairaga.com — Wawacan Batara Kala (WBK) dan Wawacan Sulanjana (WS) adalah karya sastra lama yang pada jalam dahulu dikenal dalam kehidupan masyarakat Sunda. Karya sastra yang pada awalnya berupa sastra lisan ini memiliki fungsi khusus untuk ritual dalam kehidupan masyarakat Sunda. WBK berfungsi sebagai sarana upacara ngaruat (penolak malapetaka) dan WS sebagai sarana upacara pemuliaan (penanaman) padi. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama yang dianut masyarakat Sunda, fungsi serta peran WBK dan WS semakin pudar dan nyaris punah; tentu suatu saat akan punah tak berbekas karena kedua ritual tersebut sudah tidak akan dilakukan lagi.

Beberapa upaya penyelamatan karya sastra lama —baik lisan maupun tulisan— terutama yang masih tersebar di masyarakat, di antaranya melalui inventarisasi, penelitian, dan pengkajian; serta hasilnya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan masa kini.

Teks WBK dan WS yang berbahasa Sunda itu, dapat dijadikan bahan penyusunan kamus bahasa Sunda dan penelitian perkembangan bahasa Sunda. Adapun keritualan WBK dan WS, baik yang tersirat maupun yang tersurat dapat dijadikan bahan penelitian tentang adat-istiadat, kepercayaan, dan nilai sosial budaya masyarakat Sunda masa lalu.

 

Wawacan Batara Kala

WBK berasal dari cerita wayang, yaitu cerita Batara Kala (CBK) yang hanya dipertunjukkan pada upacara ngaruat. Teks WBK ini masih berupa manuskrip yang ditulis dengan huruf Cacarakan (Sunda-Jawa) dan huruf Pegon (Arab Sunda). Dari 7 manuskrip WBK yang ditemukan, hanya 1 manuskrip yang ditulis dengan huruf Cacarakan, yang lainnya dirulis dengan huruf Pegon. Isinya terdiri atas 15 pupuh dengan 186 pada.

Selain perlakuan khusus, keritualan WBK juga ditandai dengan adanya teks rajah atau kidung (dalam pertunjukan wayang) yang terdapat pada akhir cerita dan harus ditembangkan pada puncak upacara ngaruat.

Kisah dimulai dari penjelmaan sperma Batara Guru (BG) menjadi sosok Batara Kala (BK), kemudian mulai memuncak ketika BK memohon ijin BG untuk memakan daging manusia. Klimaks cerita dilukiskan sejak BK turun ke bumi untuk memangsa manusia, kemudian penyelesaian cerita dipaparkan melalui peristiwa dibentuknya grup wayang olek BG yang menyamar sebagai dalang; untuk melakuakn ruatan agar BK tidak dapat memangsa manusia.

 

Wawacan Sulanjana

Wawacan Sulanjana hingga saat ini masih ditemukan di mana-mana di Jawa Barat. Judul untuk jenis karya ini muncul beragam di antaranya, Wawacan Sulanjana, Babad Carita Karuhun Kabeh, Wawacan Babarit, Wawacan Dewi Sri. Nama Sulanjana sendiri, digunakan untuk nama hotel, lagu, nama jalan di Kota Bandung. Sulanjana dikenal oleh para petani, nama sejenis rumput yang akarnya sangat kuat menancap ke dalam tanah, untuk menguatkan tanah dari longsor.

Wawacan Sulanjana dibacakan dalam ritual pemuliaan padi sejak ‘mitembeyan guar bumi’ ‘mulai mencangkul’ sampai panen, dan seiring berkembangnya tumbuhan padi, yang utama tebar ‘menyemai’, tandur ‘penanaman bibit’ keur reuneuh ‘padi dianggap hamil ketika biji tanaman padi berisi/bernas (maka diadakan ritual babarit seperti wanita hamil) dan yang paling utama mipit ‘mulai menuai padi ibu. ‘bibit yang baik untuk penanaman berikutnya.

Pada edisi ini disajikan Wawawacan Sulanjana hasil salinan Yudawikrama pada tahun 1956, dengan tulisan Latin. Ada aturan pupuh yang berbeda yakni pada pupuh Pangkur, pada umumnya padalisan ke-2 terdiri dari 12 suku kata, dalam tek ini secar akonsisten hanya 11 suku kata. Di samping itu ada sebanyak 4 padalisan yang rompang, bagian tersebut direkonstruksi dengan tujuan penyempurnaan untuk memberika kemudahan pada pemahaman penggunan teks ini. Seluruh teks terdiri atas 11 pupuh.

Pengungkapan bahasa pada Wawacan Sulanjana ini sangat baik. Pada teks tersimpan hierarki pemerintahan pada masa lalu, flora, fauna, jenis kesenian, dan terungkap ungkapan-ungkapan agama Islam. Tokoh yang muncul yang tak ada pada teks naskah lain yakni tokoh Sang Hiyang Wenang, dan episode yang hilang yakni kembalinya Nawang Wulan ke Kahiyanga karena Prabu Siliwangi melanggar janji untuk tidak membuka pasakan padi istrinya. Mitos pad versi ini telah diwarnai simbol Islami. Tokoh yang kemudian meninggal menjadi segala tanaman dan yang paling dimuliakan adalah padi nama lengkapnya Nyi Pohaci atau Sri Dangdayang Terusnawati.

 

 

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com