Penjaga Naskah Kuno Situ Ciburuy, Raih Penghargaan

Tulisan ini adalah arsip cadangan, sebelumnya telah dimuat pada laman Kabarpriangan.co.id.

Nana Suryana, penjaga naskah kuno situs Kabuyutan Ciburuy

NANA Suryana, penjaga Situs Kabuyutan Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, mendapatkan Penghargaan Nugraha Jasadharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI.

Nana dianggap berhasil melestarikan naskah kuno sehingga masih terpelihara sampai saat ini.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan penghargaan dari Perpustakaan Nasional RI yaitu Penghargaan Nugraha Jasadharma Pustaloka dengan kategori pelestari naskah kuno terbaik. Ini suatu kebanggan bagi saya dan para penjaga Situs Kabuyutan Ciburuy,” ujar Nana saat ditemui di kawasan Situs Kabuyutan Ciburuy, Kamis (14/9/2017).

Diakui Nana, sebelumnya ia tak pernah berpikir akan mendapatkan penghargaan dari pihak Perpustakaan nasional RI atau dari yang lainnya. Dia menjaga naskah kuno yang ada di Situs Kabuyutan Ciburuy agar tetap lestari dan bisa menjadi sebuah karya yang dikenang oleh generasi selanjutnya.A Apalagi naskah kuno tersebut, tuturnya, keberadaannya sangat penting karena berisi petuah-petuah kehidupan.

“Kami pikir keberadaan naskah kuno ini sangat penting sehingga kami pelihara agar lestari. Kan sayang kalau naskah ini sampai ruksak apalagi musnah karena jarang sekali orang-orang dulu yang mengabadikan petuah dalam bentuk naskah seperti ini,” katanya.

Nana menyebutkan, naskah kuno yang hingga kini masih terpelihara apik di Situs Kabuyutan Ciburuy jumlahnya tidak hanya satu tapi ada tiga. Sehingga bisa disebut kumpulan naskah kuno. Naskah kuno ini ditemukan pada tahun 1483 masehi dan umurnya diperkirakan jauh lebih tua.

Dia sendiri, tutur Nana, merupakan keturunan ke 149 dari juru kunci yang secara turun temurun menjaga naskah kuno tersebut.Luas kawasan Situs Kabuyutan Ciburuy sendiri mencapai 1.570 meter.

Menurutnya, dari tiga naskah kuno yang ada di situs tersebut, baru satu naskah yang sudah diterjemahkan. Naskah-naskah kuno tersebut tertulis dalam aksara sunda buhun dalam daun lontar. Setiap huruf yang ada di naskah ditulis menggunakan dua cara, yaitu memakai tinta dan diukir.

Judul naskah kuno yang pertama, katanya, “amanat galunggung siksa kandang kareusian”. Kareusian itu artinya kewalian. Terus ada “sewakadarma atau pujangga manik” dan terakhir “ramayana”.

Nana mengatakan, pembuat naskah kuno tersebut sengaja menggunakan daun lontar sebagai media untuk menuangkan petuah-petuah hidup agar kelak bisa disalin, dibaca, dan digali maknanya.

Pihak Universitas Padjadjaran telah mulai melakukan penelitian terhadap naskah kuno yang ada di Situs Kabuyutan Ciburuy sejak tahun 2007 lalu. Bahkan tambah Nana, penelitian juga pernah dilakukan peneliti dari Jerman, Itali, dan Belanda. Namun sampai saat ini isi dari naskah kuno tersebut belum bisa diketahui semuanya. Hanya naskah kedua berjudul “pujangga manik” saja yang sudah bisa diterjemahkan.

Masih menurut Nana, untuk menjaga agar naskah kuno tidak ruksak, dirinya menyimpannya dalam sebuah peti. Namun akibat usianya yang sudah sangat tua, naskah kuno tersebut kini sudah mulai lapuk sebagiannya.

“Dari hasil penelitian, penulis naskah kuno tersebut merupakan penyair dari Negara Hindia atau dari Kerajaan Hindu Buddha. Namun untuk siapa nama penulisnya, sampai saat ini juga belum bisa diktahui,” ucapnya.

Berdasarkan keterangan dari para pendahulu penjaga naskah kuno tersebut, tambahnya, naskah-naskah itu merupakan rangkuman dari tiga kitab yang ada di dunia ini yaitu kitab Zabur, Tauret, dan Injil. Naskah tersebut memang diperuntukkan bagi umat terakhir di dunia.

“Isinya macam-macam. Soal ilmu padi, pengobatan alternatif, dan ilmu kehidupan. Memang belum ada rangkuman soal Alquran di naskah ini. Soalnya naskah dibuat sebelum Alquran turun. Dalam naskah juga tertulis nama-nama nabi yang membawa kitab,” terangnya.

Nana juga menandaskan, meskipun agama Islam belum tertulis dalam naskah, akan tetapi tanda-tanda soal Islam sudah tertuang di dalamnya. Bahkan ia menyebut zaman praislam itu dengan sebutan agama Sunda Wiwitan yang memang melekat di tanah sunda.(Aep Hendy S)***

Tinggalkan Komentar

Ikuti dan bagikan:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com