Bujangga Manik

Sumber: Perpustakaan Bodleian

Bujangga Manik adalah naskah kuno yang mengisahkan perjalanan tokoh Prabu Jaya Pakuan yang disebut Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengelilingi pulau Jawa dan Bali. Ia adalah putra mahkota yang lebih memilih hidup sebagai rahib pengelana daripada menjadi penguasa.

Sejak tahun 1627 atau 1629 naskah ini menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford dengan kode inventaris MS Jav. b. 3 (R), diperoleh dari perantau Inggris Richard James, yang kemudian diserahkan oleh Andrews James (kakak Richard) kepada pihak perpustakaan. Pada tahun 1950 barulah terungkap bahwa naskah ini berasal dari Jawa Barat. Teksnya ditulis pada 29 lembar daun lontar (beberapa lembar lainnya hilang) dengan aksara dan bahasa Sunda kuno, berbentuk puisi naratif delapan suku kata pada setiap kalimatnya, dengan panjang 1.641 bait. Naskah ini diperkirakan ditulis sekitar awal abad ke-16, pada jaman pra-Islam, sebelum runtuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511). Isinya ditulis berdasarkan kenyataan pada masa itu dan dapat dibuktikan oleh rincian data topografis dalam kisah perjalanan itu, sehingga naskah ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Walau demikian, teksnya dianggap cerita karena tokoh utama pergi menuju kayangan setelah kematiannya.   

Bujangga Manik dikisahkan melakukan dua kali perjalanan mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Pertama, ia berangkat dari keraton Pakuan, Bogor ke arah timur melintasi Cipamali, perbatasan wilayah Sunda dengan Jawa. Ia terus berjalan hingga sampai ke berbagai tempat di Jawa bagian Timur. Ketika ia sampai di Pemalang, ia rindu kepada ibunya, lalu pulang ke Pakuan dengan menumpang kapal yang berasal dari Malaka. Setengah bulan ia berlayar, lalu sampai di pelabuhan Kalapa, hingga akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan ibunya. Dari perjalanan itulah ia mendapat julukan Ameng Layaran.

Kedua, Bujangga Manik kembali pergi untuk berjalan mengembara ke wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga menyeberang ke pulau Bali dengan menumpang sebuah kapal. Ia kemudian kembali pulang ke Jawa Barat dan memencilkan diri di sebuah pertapaan di sekitar Gunung Patuha. Di sanalah ia mencapai moksa hingga akhir hayatnya. Motivasi perjalanan kedua ini diperkuat dengan dorongan untuk menolak lamaran dari seorang perempuan cantik bernama Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.     

Dalam naskah disebutkan lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai. Sebagian di antaranya masih dikenali dan digunakan hingga saat ini. Nama-nama itu meliputi wilayah di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, Cina, hingga Mekah dan Madinah.

Bibliografi

  • Noorduyn, J & A. Teeuw (2006). Three Old Sundanese Poems. Netherlands: KITLV Press.
  • Noorduyn, J & A. Teeuw (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.