Naskah Sunda Kuno Berceceran di Masyarakat

Tulisan ini adalah arsip cadangan, sebelumnya telah dimuat di laman Kompas.com tanggal 20 Juli 2012.

BANDUNG, KOMPAS.com — Naskah Sunda kuno yang berisi berbagai petunjuk kehidupan mulai dari tradisi, nilai-nilai hingga tata cara bercocok tanam banyak berceceran di masyarakat. Keluarga pewaris biasanya tidak bisa menterjemahkan tulisan-tulisan terutama yang tertera dalam daun nipah, sehingga warisan leluhur itu dibiarkan lapuk dimakan usia.

Hal itu diungkapkan sejumlah peneliti dari Institut Budaya Sunda (Ibu Sunda) Jumat (20/7/2012) di Bandung, Jawa Barat. Lanjutkan membaca...

Naskah Kuno, Harta Karun yang Terancam

Tulisan ini adalah arsip cadangan, sebelumnya dimuat pada CNN Indonesia tanggal 4 Juli 2017.

Naskah kuno di Perpustakaan Nasional. (Foto: Ari Saputra/Detikcom)

Bandung, CNN Indonesia — Naskah Sunda kuno merupakan salah satu aset nasional yang berisi tentang pengetahuan budaya nenek moyang masyarakat lokal. Hingga saat ini penelitian dan informasi tentang naskah kuno itu sendiri masih rendah karena kurangnya orang yang berkecimpung dalam hal ini.

Keberadaan naskah Sunda kuno saat ini tersebar di masyarakat, museum-museum, maupun perpustakaan nasional. Namun saat ini kondisi dari naskah Sunda kuno yang tersebar di masyarakat dalam keadaan rusak dan tidak terpelihara dengan baik. Lanjutkan membaca...

SASTRA RITUAL, Wawacan Batara Kala, Wawacan Sulanjana

Judul: SASTRA RITUAL, Wawacan Batara Kala, Wawacan Sulanjana
Penyusun: Dr. Kalsum, M.Hum & Dra. Etti Rochaeti S., M.Hum.
Penerbit: Dunia Pustaka Jaya
Tahun: 2005
Jml Halaman: 104

Kairaga.com — Wawacan Batara Kala (WBK) dan Wawacan Sulanjana (WS) adalah karya sastra lama yang pada jalam dahulu dikenal dalam kehidupan masyarakat Sunda. Karya sastra yang pada awalnya berupa sastra lisan ini memiliki fungsi khusus untuk ritual dalam kehidupan masyarakat Sunda. WBK berfungsi sebagai sarana upacara ngaruat (penolak malapetaka) dan WS sebagai sarana upacara pemuliaan (penanaman) padi. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama yang dianut masyarakat Sunda, fungsi serta peran WBK dan WS semakin pudar dan nyaris punah; tentu suatu saat akan punah tak berbekas karena kedua ritual tersebut sudah tidak akan dilakukan lagi. Lanjutkan membaca...

Sakola Aksara Sunda, Diajar bari Ulin, Ulin bari Diajar

Dimuat dina Galura Minggu 1 April 2017

Saptu, 1 April 2017, pasosoré sabada asar, di Alun-alun Bandung. Sababaraha nonoman nu dariuk ngariung ngawangun buleudan. Nyanghareupan papan préséntasi. Témbong deuih nu keur nerangkeun pangajaran. Daria pisan katempona téh. Teu kapangaruhan ku kaayaan alun-alun nu ramé ku nu arulin dina amparan jukut sintétis.

Keur naraon para nonoman bieu téh? Singhoréng keur miluan Sakola Aksara Sunda nu dilaksanakeun ku Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS), Ikatan Mahasiswa Siliwangi AMS, jeung Taman Bacaan Masarakat (TBM) Cibungur. “Sakola Aksara Sunda,” ceuk Hayati Mayang Arum, salah saurang aktivis Sakola Aksara Sunda. Lanjutkan membaca...

Naskah Kuno Perlu Diselamatkan!

Tulisan ini adalah arsip cadangan, sebelumnya dimuat pada laman Kompas.com tanggal 29 Mei 2019.

Ingin mencari barang-barang yang hilang dan ingin mengetahui baik-buruknya hari, tanda-tanda dan lainnya? Lihatlah naskah kuno Primbon yang dipajang di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jakarta.

Tetapi, untuk membacanya, pengunjung harus dibantu oleh seorang peneliti dan pengkaji naskah, guna mengetahui isi dari naskah tersebut karena naskah itu masih menggunakan huruf-huruf kuno yang tidak semua orang mengerti artinya. Lanjutkan membaca...

Berbagai Masalah pada Font Sunda

Oleh E. Mulyadi

Masalah-masalah yang ditemukan pada font Sunda semestinya diperbaiki oleh para programer aksara Sunda. Karena bila terus dibiarkan akan membingungkan para penggunanya. Tidak sedikit juga yang saling berselisih paham. Padahal masalahnya bukan salah pada orang yang mengetikkannya, tetapi pada font yang dipakainya.

Masalah-masalah yang telah ditemukan di antaranya:

  1. Font Sunda belum seragam cara pengetikannya, terutama dalam mengetikkan tanda panéléng. Panéléng ada yang secara otomatis berpindah ke depan aksara dasar, ada juga yang harus diketikkan secara manual (harus mengetik panéléng dulu baru aksara dasar). Contoh: Bila si A mengetik dengan menggunakan font Sundanese Unicode sedangkan si B menggunakan font Sunda Prada, ketika Si A mengetik status Facebook atau mengirim pesa ke Si B, sebagian tanda vokalisasi ada yang belum tampil secara sempurna.
  2. Cara mengetik panéléng pada aplikasi Office dengan di aplikasi internet tidak seragam satu sama lain. Yang menjadi masalah ketika tulisan yang diketik pada MS Office, disalin-tempel ke lama Facebook atau sebaliknya, maka tidak sedikit yang berantakan posisi vokalisasinya.
  3. Masih ada rarangkén (vokalisasi) rangkap yang bertumpuk, hal ini menyulitkan pembacaannya, terutama bagi pembelajar pemula.
  4. Ketika komputer A dipasangi font Sundanese Unicode sedangkan komputer B dipasang font Sunda Prada atau font yang lainnya, kemudian pengguna komputer A ingin mencetak di komputer B, maka ketika dicetak hasilnya menjadi berantakan, sebab cara mengetik pada font Sundanese Unicode dengan Sunda Prada atau font lainnya tidak sama. (admin: baca tips mencetak aksara Sunda)
  5. Masih ada tampilan yang kacau, seperti mengetik tanda panéléng pada font Sundanese Unicode v. 2, bila mengetik panéléng pada aplikasi internet, misalnya pada kata hésébéléké. (admin: baca ulasannya di sini)
  6. Khusus untuk tanda vokalisasi panéléng, sebaiknya menggunakan sistem perpindahan otomatis terhadap aksara dasar, seperti halnya font Sundanese Unicode v. 2 (edisi revisi).

Masalah-masalah yang dikemukakan di atas barulah sebagian saja. Bila ada kesempatan akan saya sambung kembali. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kemajuan font aksara Sunda. Lanjutkan membaca...

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com