Penelitian Naskah Sunda

Penelitian awal tentang naskah Sunda dilakukan oleh KF. Holle pada tahun 1867 dan Cohen Stuart (1987). setelah itu muncul nama-nama peneliti lain seperti Pleyte (1911), N.J. Krom (1914), Peorbatjaraka (1916), dan Dam (1957). Jejak mereka kemudian dilanjutkan pada awal tahun 1960-an yang diantaranya dilakukan oleh Amir Sutaarga, Atja, Saleh Danasasmita, dan Ayatrohaedi, serta seorang sarjana Belanda yaitu Noordyun. Generasi berikutnya dilanjutkan oleh peneliti-peneliti angkatan baru, antara lain Tien Wartini, Kalsum, Ruhaliah, Undang Ahmad Darsa, Agus Suherman dan Tedi Permadi.

Naskah-naskah yang telah diteliti dan hasil penelitiannya diterbitkan berjumlah cukup banyak, meliputi naskah-naskah Sunda kuna, naskah pegon, cacarakan maupun naskah beraksara latin. Kegiatan penelitian naskah Sunda hingga kini masih berjalan, baik yang disponsori oleh pemerintah, baik yang dilakukan oleh perorangan. Namun demikian jumlah naskah yang begitu banyak sangat tidak sebanding dengan jumlah peneliti naskah (filolog) berkompeten yang masih sedikit jumlahnya. Yang diperlukan adalah suatu proses regenerasi filolog, sehingga kegiatan penelitian naskah-naskah Sunda dapat terus berlanjut. Tongkat estafet harus terus berlanjut, baik dengan tugas yang masih diemban para peneliti senior, maupun dengan antusiasme peneliti-peneliti muda yang tinggi. Dengan demikian, akan terjadi sebuah kesinambungan dalam mengungkap master piece karya para leluhur urang Sunda.

Peneliti generasi muda yang kini tengah berkecimpung dengan naskah Sunda di antaranya Aditia Gunawan (Kurator Naskah Sunda Kuna di PNRI), Mamat Rahmat (Unpad), Rahmat Sopian (Unpad), Sinta Ridwan (Unpad), Reza Saefulrahman (UPI), dan Ilham Nurwansah (UPI).

Kairaga.com © 2017
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com