Bahan

Daluang

Daluang (daluwang) adalah kertas tradisional yang terbuat dari bahan kulit kayu jenis Broussonetia papyrifera  atau yang dalam bahasa Sunda disebut saéh. Jenis kertas ini banyak digunakan sebagai media penulisan naskah di Nusantara, terutama di pulau Jawa. Naskah dengan bahan daluang ditulis menggunakan tinta hitam atau warna lain dengan beragam aksara dan Bahasa. Bentuk naskah sebagian besar berbentuk buku berjilid, tetapi banyak juga yang berbentuk lembaran tanpa jilid dan gulungan.

Dalam peribahasa Sunda terdapat ungkapan “peso pangot ninggang lontar, daluang katinggang mangsi,” yang menunjukkan pengetahuan umum terhadap penggunaan bahan lontar dan daluang sebagai alas tulis. Daluang telah dikenal dalam teks Sunda kuna dari sekitar abad 15 M, yaitu dalam Sanghyang Swawar Cinta disebutkan:

Daluwang kulit ning kayu, 
upakara[ng] ning busana,  
cangcut baju pangadua,  
Daluwang kulit dari kayu,
Digunakan sebagai busana,
Cangcut baju sepasang,

Kertas daluang masih terus digunakan saat kertas produksi Eropa dan Cina masuk ke Nusantara. Tetapi lama-lama pengrajin daluang semakin tersisih dan langka. Dr. Tedi Permadi melalui penelitian dan uji coba bertahun-tahun berhasil merekonstruksi dan merevitalisasi keberadaan daluang dewasa ini. Bahkan melalui prakarsanya, kertas daluang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional No. 90 tahun 2014 sebagai Kemahiran dan Kerajinan Tradisional Jawa Barat.

Proses pembuatannya yaitu kulit dari batang pohon saéh dipotong dengan ukuran tertentu, kemudian dibuang bagian arinya sehingga bagian kulit putihnya saja yang digunakan. Kulit saéh yang telah dibersihkan kemudian direndam dengan air selama beberapa waktu, baru kemudian ditumbuk dengan alat pemukul khusus. Alat pemukul ini dalam Bahasa Sunda disebut pameupeuh dengan permukaan berulir khusus yang terdiri dari beberapa tingkat kerenggangan.

Naskah daluang_(CC-BY SA 4.0)
Naskah berbahan daluang koleksi Perpustakaan Ajip Rosidi (dok. Wikimedia Indonesia; cc-by-sa 4.0)

Pemukulan bahan dimulai dengan pemukul bertekstur renggang, dilanjutkan dengan pemukul bertekstur lebih rapat dan demikian selanjutnya hingga serat-serat kulit kayu semakin merenggang. Kulit saeh yang telah merenggang dan tipis kemudian diperam selama kurang lebih tiga hari dengan dibungkus daun pisang. Setelah itu, dijemur dengan ditempelkan pada batang pohon pisang untuk mendapatkan tekstur yang halus. Setelah kering, untuk menambahkan tingkat kehalusan daluang digosok pada permukaan papan yang halus dan keras dengan menggunakan kuwuk (cangkang kerang) atau tempurung kelapa. Hasil akhir dari proses pemolesan kemudian dipotong sesuai ukuran yang diinginkan.

Lontar


Lontar adalah jenis bahan naskah yang terbuat dari daun pohon palem lontar (ental, taal, tal) atau siwalan dengan nama Latin Borassus flabellifer. Cara menulis pada bahan lontar yaitu dengan digores menggunakan sejenis pisau tulis yang disebut peso pangot. Untuk menghitamkan goresan aksara kemudian digunakan unsur arang alami dari kemiri yang telah dibakar.

Bahan daun lontar telah digunakan sejak lama dalam tradisi naskah Sunda untuk menulis teks. Rentang waktu penulisan lontar sebagai bahan tulis naskah Sunda Kuna, diperkirakan berlangsung antara abad ke-15 hingga abad ke-16. Bukti penggunaannya bisa ditemukan dalam koleksi naskah Sunda kuna di Kabuyutan Ciburuy, Garut, Museum Negeri Sri Baduga, Bandung dan koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Keberadaan naskah-naskah lontar Sunda kuna itu merupakan tanda nyata bahwa pernah ada tradisi penulisan dan penyalinan teks-teks Sunda kuna pada masa lalu. Selain keberadaan naskah-naskah lontar dengan teks dan aksara Sunda kuna, cukup banyak juga ditemukan naskah-naskah lontar yang berbahasa Jawa dengan aksara Jawa (Carakan) baik dalam koleksi lembaga maupun milik masyarakat di Jawa Barat dan Banten.

Tidak hanya bukti artefak naskah lontar kuno saja yang masih bisa ditemui saat ini, tetapi juga pengetahuan atau ingatan tentang keberadaan lontar sebagai bagian budaya Sunda terdokumentasi cukukp baik antara lain dalam kamus bahasa Sunda, tradisi lisan carita pantun, dan bahkan lebh jauh lagi, ditemukan dalam teks Sunda kuno. Dengan demikian fungsi lontar sebagai alas tulis naskah Sunda telah mendapatkan tempat tersendiri dalam khazanah pengetahuan dan kebudayaan Sunda dari masa ke masa.

Lontar Sunda Kuna Kawih Pangeuyeukan koleksi Perpusnas RI (dok. Aditia Gunawan)

Kesaksikan Teks Sunda Kuna

Kedudukan lontar sebagai alas tulis naskah tercatat dalam naskah Sanghyang Sasana Maha Guru, kropak 621 koleksi Perpustakaan Nasional (Gunawan dan Kurnia 2019, 42–47). Dalam teks SSMG disebutkan bahwa gebang dan lontar diciptakan oleh Sri Batara Gana dan lontar dikenal sebagai salah satu bahan tulis “sastra munggu ring taal“, tulisan di atas lontar, (Gunawan 2009, 110–11).

Dalam naskah yang sama disebutkan bahwa naskah yang ditulis di atas lontar disebut sebagai carik dan bukan merupakan bacaan untuk kabuyutan “Diturunkeun deui, sastra munggu ring taal, dingaranan ta ya carik, aya eta munang utama, kenana lain pikabuyutaneun”, diturunkan lagi tulisan di atas daun lontar, dinamakan goresan carik, ada mendapatkan keutamaan, karena bukan untuk kabuyutan (2009, 112–13).

Naskah Sunda Kuna lain yang membahas mengenai lontar dan gebang adalah Sanghyang Swawar Cinta (SSC) (baris 447-452). Naskah tersebut memberikan gambaran sebagai berikut:

447
kaguritkeun kaguratkeun,
dina gebang lawan lo(n)tar,
lempihan kukuluntungan,
dicarik (ku) tanah hireng,
ampar gelar susuratan,
eusi sang hiyang pustaka

dituliskan digariskan,
pada gebang dan lontar,
rangkapan dan gulungan,
digores dengan tanah hitam,
hampar gelar tulisan,
isi pustaka suci

Terekam dalam Sastra Lisan Carita Pantun

Dari hasil transkripsi carta pantun yang telah diusahakan oleh Ajip Rosidi ada beberapa cerita pantun Sunda yang merekam penggunaan kata “lontar”, yaitu Demung Kalagan, Kembang Panyarikan, Perenggong Jaa, dan Gantangan Wangi (Gunawan dan Kurnia 2019, 43). Keterangan itu terutama ditemukan pada bagian rajah yang biasanya dibawakan oleh juru pantun pada awal pertunjukan berupa lagu dan permohonan kepada para dewa agar mencegah timbulnya marabahaya selama ia membawakan cerita. Penyebutan lontar maupun gebang dalam carita pantun seringkali mengalami pergeseran akibat salah ucap sang juru pantun, namun masih dapat direkonstruksi menurut konteksnya dan perbandingan dengan teks pantun lain.

Rajah pantun Kembang Panyarikan (hlm. 7)

Caturkeun,
urang cuang caritakeun,
cuang diajar mupulihkeun nu bihari,
mopoyakeun nu baheula,
diguratkeun diguritkeun,
kana pucuk gebang pondok lontar,
ecekan guguluntungan,
sabeulit tamba pamali.
Kisahkan,
kita ceritakan,
kita belajar membicarakan yang dahulu,
mengisahkan yang lama,
digariskan dan digubah,
pada pucuk gebang dan pucuk lontar,
bintik-bintik dalam gulungan,
satu belitan penangkal tabu

Pantun Perenggong Jaya (hlm. 5)

Gebray geuning pucuk kawung beukah,
lain gebray pucuk kawung beukah,
apus gebar mana lawe lontar,
ngaranna lulumbang siang,
mn surat kukuluntungan
Merekah, ternyata pucuk aren merekah,
bukan pucuk aren yang merekah,
(tapi) tali gebang dan benang lontar,
namanya lulumbang siang,
surat bergulung-gulung.

Pantun Gantangan Wangi

Abis gobang lawe lontar,
cekcekan guguluntungan,
dituruban ku bandepung,
Tali gebang benang lontar,
bintik-bintik dalam gulungan,
ditutup oleh mandepun.

Catatan dalam Kamus-kamus Bahasa Sunda

Kata “lontar” dalam bahasa Sunda telah tercatat dalam beberapa kamus terbitan masa Hindia-Belanda. Di dalam kamus Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek karya de Wilde (1841, 22) disebutkan boomblad, waarop de Indianed schrijven (daun pohon, di mana orang India menulis), sedangkan padanannya dalam bahasa Melayu yaitu ‘daun lontar’ dan dalam bahasa Sunda ‘daöen lontar’ (ꦣꦲꦸꦤ꧀ꦭꦺꦴꦤ꧀ꦠꦂ).

Jonathan Rig mencatat lema “lontar” dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java (1862, 257) sebagai name of palm tree, from wich in some parts of the country much toddy is drawn (nama pohon palem yang di beberapa bagian negara banyak digambar), dengan membubuhkan nama Latinnya yaitu Borassus Fabelliformis. Oosting (1882, 485) dalam kamus Soendasch-Nederduitsch Woordenboek mencatat lema ꦭꦴꦤ꧀ꦠꦂ (lontar) yang berasal dari perubahan kata ꦫꦺꦴꦤ꧀ꦠꦭ꧀ (rontal) dengan makna het blad van den talboom, waarop in vroeger tijden werd geschreven (daun dari pohon tal, yang ditulis pada zaman kuno).

Sedangkan, Coolsma (1913, 357) memberikan deskripsi untuk lema ‘lontar’ sebagai het blad van den lontar-pal, voll. Daoen lontar; ook de lontar-palm. Voll. Tangkal lontar; kawas peso ninggang lontar, als het mesje (schrijfstift) vallend op een lontar-blad “met zijn neus in de boter vallen” (daun lontar, juga pohon lontar). Dalam deksripsinya itu juga ia juga menyebutkan tangkal lontar (pohon lontar), dan ungkapan kawas peso pangot ninggang lontar (bagaikan pisau pangot jatuh di atas daun lontar).

Informasi mengenai kata “lontar” terus terdokumentasikan dalam kamus-kamus bahasa Sunda yang terbit setelah masa kemerdekaan Indonesia, antara lain dalam Kamus Sunda-Indonesia yang disusun oleh Maman Sumantri dkk. (1985, 270) ; lontar merupakan perubahan dari rontal, daun siwalan sejenis palam; patah lontar, lebat dan panjang (rambut perempuan); kumpulan daun lontar yang sudah bertulis.

Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) juga mencatat entri “lontar” dalam Kamus Umum Basa Sunda (1995, 291) sebagai perubahan dari rontal, daun siwalan (sejenis palem) yang dahulu digunakan untuk menulis. Seperti halnya kamus Coolsma, di dalam kamus LBSS ini tercatat ungkapanyang serupa,yaitu peso pangot ninggang lontar malahmandar katuliskeun (pisau pangot jatuh di atas daun lontar, semoga tertuliskan). Pada lema ini juga diterangkan pengertian koropak, yaitu kumpulan daun lontar yang sudah ditulisi serta merupakan buku pada masa lalu.

Di dalam Sundanese English Dictionary yang disusun oleh R. Hardjadibrata dan Eringa (2003, 506) “lontar” dideskripsikan sebagai palmyra palm, palmyra leaves (used for plaitwork, in olden times used as writing material); palm leaf handwriting (palem palmyra, daun palem palmyra [digunakan untuk anyaman, dulu digunakan sebagai bahan menulis]; tulisan tangan daun palem).

Referensi

  • Coolsma, Sierk. 1913. Soendaneesh-Hollandsch Woordenboek. Leiden: A. W. Sijthoff’s Uitgervers-Maatschapij.
  • Gunawan, Aditia. 2009. Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: suntingan dan terjemahan. ed. Agung Kriswanto dan Nindya Noegraha. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
  • Gunawan, Aditia, dan Atep Kurnia. 2019. Tata Pustaka: Sebuah Pengantar Terhadap Tradisi Tulis Sunda Kuna. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  • Hardjadibrata, R.R., dan F.S. Eringa. 2003. Sundanese English dictionary. Jakarta: Published for Yayasan Kebudayaan Rancage by PT. Dunia Pustaka Jaya.
  • LBSS. 1995. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Lembaga Basa jeung Sastra Sunda.
  • Oosting, H. J. 1882. Soendasch-Nederduitsch woordenboek : op last van het Gouvernement van Nederlandsch-Indie zamengesteld. Amsterdam: Muller.
  • Rigg, Jonathan. 1862. A Dictionary of the Sunda Language of Java. Batavia: Lange.
  • Sumantri et.al., Maman. 1985. Kamus Sunda-Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Wilde, A. De. 1841. Nederduitsch – Maleisch en Soendasch Woordenboek. Amsterdam: Johannes Muller.

Gebang


Informasi segera tersedia. Halaman sedang dibangun.

Kertas Pabrik


Informasi segera tersedia. Halaman sedang dibangun.

Bambu

Informasi segera tersedia. Halaman sedang dibangun.

🇮🇩 | 🇬🇧

Updated: 27 Desember 2021 — 17:21