Konsep Kelepasan Jiwa dalam Lima Lembar Lontar Sunda Kuno

L 632b peti 16 koleksi Perpustakaan Nasional RI (foto: Ilham Nurwansah | cc by-sa 4.0)

Naskah-naskah Sunda Kuna koleksi Perpustakaan Nasional RI telah cukup banyak digarap dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian masih terdapat beberapa naskah yang belum dikaji secara filologis. Di antara naskah-naskah yang belum digarap itu terdapat kodeks L 632b peti 16 yang berisi ajaran Jati Suda tentang proses kelepasan jiwa menuju moksa. Naskah ini ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda Kuna pada lima lempir daun lontar. Tulisan ini menyajikan naskah Jati Suda secara filologis berupa reproduksi faksimili, edisi diplomatis, edisi kritis, terjemahan dan analisis isi.

Naksah yang dibahas dalam penelitian ini disimpan dalam koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta dengan nomor L 632b Peti 16, yang pada mulanya merupakan koleksi lembaga Masyarakat Batavia Pecinta Seni dan Ilmu Pengetahuan (BGKW). Naskah ini berada pada peti dan nomor yang sama dengan Amanat Galunggung (AG), yaitu koleksi nomor L 632 pada Peti 16. Dalam penelitian terdahulu terhadap naskah AG, kode naskahnya tidak disebutkan secara lengkap, yaitu hanya 632 (Danasasmita et. al., 1987; 1981). Padahal, nomor tersebut digunakan untuk dua naskah yang berbeda. Selain digunakan untuk naskah Amanat Galunggung dengan kode ‘a’, nomor 632 digunakan juga untuk naskah kedua yang diberi keterangan ‘b’. Informasi singkat tentang naskah L 632a maupun L 632b terdapat dalam Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Kuna Perpustakaan Nasional Republik Indonesia disebutkan sebagai berikut:

16 L 632a, Ciburui, 2 hlm, Bhs Jawa Kuna, Aks Buda, daun nipah;

16 L 632b Sunda Kuna (?), 4 hlm, Bhs Sunda Kuna, Aks Sunda.

Ringkasan Isi

Pembuka kisah teks JSd membahas suatu hal yang dianggap luar biasa dan sering dibicarakan oleh orang-orang yang telah memahami ajaran kebijaksanaan. Sebuah perjalanan spiritual yang dimulai dengan proses terbebasnya jiwa Sanghyang Darma dari segala kesenangan dan nafsu duniawi. Pembebasan inti jiwa ini dikehendaki oleh Sang Manon-Sang Manonton. Jiwa yang telah terbebas dari raga itu kemudian harus melanjutkan sendiri perjalanannya. Keadaan jiwa yang telah kosong (dari nafsu duniawi) diumpakan seperti ruas kangkung dan buluh betung, bagaikan telapak kaki kuntul yang telah terbang melayang.

Jiwa yang telah mendapatkan tahap demikian artinya telah memahami nasihat dan ajaran kelepasan. Ia akan menuju ke ujung dunia, tempat bersemayamnya Sang Hyang Tungtung Bwana. Yaitu pusat dari Gunung Kahyangan yang terang benderang. Berbagai keindahan bunga dari Sanghyang Surakadana akan ia temukan, yang merupakan awal dari segala kemuliaan dan kebahagiaan, yaitu jati suda (kemurnian sejati).

Inti dari segala pengetahuan diungkapkan dalam perumpamaan Sanghyang Talaga Doja, berupa seloka kuta, kani, peni, artinya ‘benteng’, ‘luka’, dan ‘pencapaian’. Jiwa itu kemudian lenyap dari keberadaannya di dunia, setelah memahami empat nasihat dari sang Wiku Kabujanggaan, atas keteguhan dan kemurnian Sanghyang Wisésa yang bening berkilauan. Ada yang disebut dengan Sanghyang Pramana, diumpamakan sebagai buluh yang bengkok. Lima jalan suci (pancamarga) lima bagian (wuku lima), yaitu berupa nasihat pemberian sang pandita, sebagai petunjuk jalan menuju puncak langit Sanghyang Angkasa. Ia akan mendapatkan sebuah kewaspadaan yang begitu besar, terhadap Sanghyang Angkasa (langit), dan Sanghyang Alas (hutan/daratan).

Seluruh nasihat dari entitas yang paling berhak untuk mengambil, diumpakan bagai pelita di dunia, sehingga ia mampu menuju keadaan abadi. Sehingga, tibalah ia pada siang yang abadi, sampai kepada awal dan kembali ke permulaan. Jangan sampai jiwa itu dibuat bingung atas dua pilihan, sehingga oleh karenanya, sang jiwa batal melakukan perjalanannya dan tidak sampai ke tujuan akhirnya akibat tidak cukup bekal (ilmu).

Dalam keadaan yang telah murni, ia naik menuju tangga yang terbuat dari bebatuan mulia (manik sawéstra), segala pernak-pernik kewajiban semasa di dunia, mengingatkan kisah tentang ajaran dewata (déwatadarma), yaitu dari Dewa Terus Kancana, untuk memisahkan raga menjadi dua. Membelah dua raga kecil (roh), untuk menuju Sang Septa Mula Jati Larang dan kepada Sang Septa Mula Jati(?)han. Dari Sanghyang Biheung, kemudian jiwa itu masuk ke dalam sebuah keadaan hampa dan kosong. Itulah yang disebut hidup sang Hyang (?), Hyang Lajar Burahan, yang berasal dari Sang Hyang Pretiwi (bumi), diciptakan oleh Batara Guru. Setelah melewati seluruh rintangan, melalui lima bentuk penderitaan (pancagati sangsara), dan telah bebas dari penderitaan itu, maka keluarlah ia dari dasar kawah. Jiwanya kemudian terbebas dari keadaan nista menuju moksa.

Teks selesai ditulis oleh hulu kumbang Batu Wangi.

Pembacaan Lebih Lengkap

Untuk membaca penelitian tentang naskah L 632b Peti 16, silakan baca selengkapknya artikel Jati Suda: Gambaran Ringkas Perjalanan Menuju Moksa (Lontar Sunda Kuna L 632b Peti 16) dalam Jurnal Sundalana Vol 1, No 1 (2021).

Halaman Sampul
Updated: 29 April 2022 — 15:17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.